Oleh : Nathanael Andry Mianto, dr.

Penyakit difteri menjadi topik hangat yang ramai diperbincangkan di berbagai media di Indonesia. Penyakit mematikan yang sudah lama hilang, bahkan nyaris dianggap punah ini mendadak ditemukan kembali di berbagai tempat di Indonesia. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sudah menetapkan status kejadian luar biasa (KLB) atas kasus – kasus penyakit ini. Tidaklah mengherankan apabila penyakit ini menimbulkan keresahan bagi banyak orang. Apakah itu penyakit difteri? Mari kita bahas secara singkat mengenai penyakit ini.

Difteri di Indonesia

Difteri sebenarnya bukan penyakit baru, namun merupakan penyakit yang seharusnya sudah tidak ditemukan dengan adanya vaksinasi. Sejak tahun 1990 penyakit ini sudah sangat jarang ditemukan di Indonesia, namun muncul kembali pada tahun 2009. Sampai dengan November 2017, data dari Kementrian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa terdapat 95 kota dan kabupaten dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri, yaitu 593 kasus, dengan 32 orang meninggal dunia karena penyakit ini. Provinsi dengan jumlah kasus terbanyak adalah Jawa Timur, diikuti dengan Jawa Barat, Banten, dan Aceh. Di Jawa Barat sendiri kasus difteri terbanyak ditemukan di Kabupaten Purwakarta, dengan 27 kasus difteri.

Kementrian Kesehatan mengeluarkan data bahwa 66% penderita difteri tidak pernah mendapat vaksinasi difteri sama sekali, 31% mendapat vaksinasi difteri namun tidak lengkap, dan 3% penderita yang pernah mendapatkan vaksinasi difteri lengkap.

1

Apa itu Penyakit Difteri?

Difteri adalah infeksi menular serius yang pada umumnya menyerang saluran nafas yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Sebelum tahun 1920, penyakit ini merupakan masalah kesehatan sangat serius dan menyebabkan banyak kematian di berbagai belahan dunia. Setelah ditemukannya vaksin difteri pada tahun 1923, angka kejadian penyakit ini menurun drastis. Di Indonesia sendiri vaksin difteri termasuk dalam vaksinasi dasar sesuai ketetapan Kemenkes RI yang harus didapatkan oleh semua masyarakat Indonesia khususnya anak-anak.

2

Bagaimana Gejala Penyakit Difteri ?

Kuman difteri menyerang saluran nafas yang dapat menyebabkan peradangan pada saluran nafas. Gejala umum yang sering ditemukan pada penderita difteri adalah:

  1. Sakit tenggorokan dan suara serak
  2. Munculnya suatu lapisan tebal berwarna keabuan pada daerah amandel dan tenggorokan penderita.
  3. Demam dan menggigil.
  4. Badan terasa lemas.
  5. Membesarnya kelenjar getah bening di leher.
  6. Sulit bernafas dan menelan.

Kuman difteri memproduksi racun (toxin) yang memiliki berbagai dampak serius bagi tubuh. Racun yang dihasilkan kuman difteri dapat merusak sel-sel normal pada saluran nafas, akibatnya tumpukan sel-sel saluran nafas yang mati akan membentuk suatu lapisan berwarna keabuan yang tebal yang disebut dengan pseudomembrane yang merupakan ciri khas penyakit difteri. Pseudomembrane dapat menutup saluran nafas penderita dan menyebabkan kesulitan bernafas dan menelan. Selain itu racun kuman difteri dapat berakibat fatal bagi ginjal, saraf dan membunuh sel-sel jantung, serta dapat mengakibatkan penyakit myocarditis yang bersifat mematikan dan fatal.

3

Pseudomembran pada penderita difteri

Bagaimana Penularan Penyakit Difteri ?

Corynebacterium diptheriae ditularkan dari manusia ke manusia melalui droplet atau partikel air ludah yang sangat kecil yang dikeluarkan penderita penyakit ini pada saat orang tersebut bersin atau batuk. Oleh karena itu, penyakit ini cenderung mudah menular, terutama di daerah yang padat akan penduduk. Penyakit ini dapat juga menular melalui kontak dengan barang-barang pribadi pasien seperti handuk, gelas, mainan, namun penularan dengan cara seperti ini sangatlah jarang terjadi. Setelah terinfeksi kuman difteri, umumnya penderita akan mulai menunjukan gejala dalam waktu 2 – 5 hari.

Apakah Difteri Dapat Diobati ?

Penyakit difteri dapat diobati seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran. Pasien yang diketahui terkena difteri perlu ditempatkan dalam ruang isolasi agar tidak menularkan penyakit ini ke orang lain. Penyakit ini dapat diobati dengan pemberian antibiotik yang sesuai, atau dengan menggunakan antitoxin difteri. Kadang penyakit ini dapat menyebabkan saluran nafas pasien tertutup, apabila terjadi kondisi seperti ini maka perlu dibuat akses saluran nafas baru dari leher penderita untuk sementara waktu agar penderita dapat bernafas.

Perlu diketahui bahwa difteri merupakan penyakit yang mematikan. Apabila tidak diobati, angka kematian akibat penyakit ini adalah satu dari dua pasien (50%). Dengan pengobatan yang baik pun, penyakit ini masih memiliki angka kematian sebesar satu dari sepuluh pasien.

Bagaimana Mencegah Difteri ?

Pencegahan terbaik penyakit difteri adalah dengan mendapat vaksinasi. Vaksin difteri sangat efektif dalam mencegah penyakit ini, selain itu vaksin difteri relatif aman, dan jarang menyebabkan komplikasi serius pada penerima vaksin ini. Vaksin difteri biasanya diberikan bersama dengan vaksin terhadap pertusis atau batuk rejan, dan tetanus (DPT). Vaksinasi difteri sudah termasuk dalam program nasional imunisasi dasar yang harus didapatkan oleh semua anak meliputi:

  1. Tiga dosis imunisasi dasar DPT-HB-Hib (Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis B, dan Haemofilus influenza tipe B) pada usia 2, 3 dan 4 bulan.
  2. Satu dosis imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib saat usia 18 bulan.
  3. Satu dosis imunisasi lanjutan DT (Difteri Tetanus) bagi anak kelas 1 SD.
  4. Satu dosis imunsasi lanjutan Td (Tetanus difteri) bagi anak kelas 2 SD.
  5. Satu dosis imunasi lanjutan Td (Tetanus difteri) bagi anak kelas 5 SD.

Bagi orang dewasa juga disarankan untuk mendapatkan vaksinasi Td (Tetanus difteri) ulang (booster) setiap 10 tahun.

Mengapakah Saya Harus Mendapat Vaksinasi ? Bukankah itu Hak Saya untuk Memutuskan ?

Vaksinasi berdampak positif bagi masyarakat secara keseluruhan. Dalam ilmu vaksinologi dikenal istilah herd immunity atau imunitas warga / imunitas komunitas. Herd immunity menyatakan apabila sebagian besar masyarakat telah mendapat vaksinasi dan menjadi imun terhadap suatu penyakit menular, maka secara tidak langsung orang yang telah mendapat vaksinasi tersebut dapat juga memberikan perlindungan bagi orang yang belum menerima vaksinasi, atau oleh karena kondisi medis tertentu tidak dapat menerima vaksinasi. Dengan kata lain, semakin banyak orang yang telah mendapat vaksinasi, semakin sulit suatu penyakit menular dapat menyebar di masyarakat. Jadi, apabila kita mendapat vaksin, kita tidak hanya melindungi diri kita sendiri dari penyakit tersebut, namun kita juga melindungi orang di sekitar kita. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat diharapkan dapat menimbang dengan cermat tindakan dan keputusan yang diambilnya, karena dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Mari lebih waspada terhadap penyakit difteri dan turut serta mendukung dan menyukseskan usaha pemerintah menanggulangi kejadian luar biasa difteri.

Sumber :

https://www.cdc.gov/diphtheria/about/diagnosis-treatment.html

https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diphtheria/symptoms-causes/syc-20351897

Community Immunity (“Herd Immunity”) | Vaccines.gov

http://www.bbc.com/indonesia/majalah-42215042

https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171208035427-255-260967/10-hal-yang-patut-diketahui-seputar-wabah-difteri/

http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42298750

http://nationalgeographic.co.id/berita/2017/12/mengenal-lebih-jauh-tentang-difteri-yang-sedang-mewabah-di-indonesia

http://sains.kompas.com/read/2017/12/07/080900823/kemenkes–difteri-tahun-ini-luar-biasa

http://sains.kompas.com/read/2017/12/11/190500123/kasus-penolakan-vaksinasi-difteri-ini-kata-menkes

http://www.depkes.go.id/article/view/17121200002/menkes-difteri-menular-berbahaya-dan-mematikan-namun-bisa-dicegah-dengan-imunisasi.html

http://www.depkes.go.id/article/view/17120700003/meningkatnya-kasus-difteri-3-provinsi-sepakat-lakukan-respon-cepat.html

CategoryUncategorized