Saat ini, umat muslim di seluruh dunia tengah menunaikan ibadah puasa. Saat berpuasa tentu kita ingin ibadah lancar, tubuh sehat, dan kegiatan sehari-hari juga tak terganggu. Tapi adakalanya gangguan terjadi. Gangguan yang sangat mungkin timbul saat berpuasa adalah gangguan pada rongga mulut, yaitu bau mulut dan sariawan.

Sebenarnya apa penyebab sariawan dan bau mulut? Lalu bagaimana cara kita mencegah dan mengatasinya agar ibadah puasa kita tidak terganggu? Berikut penjelasannya.

  1. Sariawan

    Sariawan adalah luka kecil dan dangkal yang muncul pada jaringan lunak pada mulut atau pada dasar gusi. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa sakit dan tidak nyaman pada penderitanya. Hal ini dapat menyebabkan gangguan dalam berbicara dan proses mengunyah makanan. Lokasi sariawan dapat terjadi di bagian dalam pipi atau bibir, serta di permukaan gusi dan lidah. Sariawan yang tumbuh pun dapat berjumlah lebih dari satu. Kurangnya asupan nutrisi seperti kekurangan vitamin C, B12, atau zat besi yang rentan terjadi selama bulan Ramadan bisa menjadi pemicu munculnya sariawan di mulut. Apalagi, biasanya kita menginginkan sajian yang praktis seperti kering-keringan dan daging-dagingan yang mudah distok selama bulan puasa. Akibatnya, gizi jadi tidak seimbang dan mulut mudah terkena sariawan.

    Sariawan dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:

    • Kondisi medis yang meliputi kekurangan zat besi atau vitamin B12, penyakit Crohn, penyakit celiac, artritis reaktif, sistem imunitas yang lemah (misalnya akibat HIV dan penyakit lupus), penyakit Behcet, dan infeksi virus (misalnya pilek, penyakit tangan, kaki, dan mulut, atau pilek).
    • Cedera atau kerusakan pada lapisan dalam mulut (trauma). Trauma dalam penyakit sariawan bukan menjadi faktor penyebab berkembangnya sariawan, melainkan faktor pencetus atas terbentuknya sariawan. Hal ini dapat terjadi karena bibir tergigit secara tidak sengaja, gigi yang terlalu tajam, memakai kawat gigi, atau mengunyah makanan yang keras.
    • Efek samping obat atau metode pengobatan.
    • Perubahan hormon. Kondisi ini biasanya dialami wanita yang dapat mengalami sariawan selama masa menstruasi.
    • Alergi. Penyebab sariawan akibat alergi adalah suatu respon imun spesifik atau hipersensitifitas terhadap suatu alergen tertentu yang tidak diinginkan oleh tubuh. Biasanya bahan alergen tersebut terdapat pada pasta gigi, lipstik, permen karet dll.
    • Mengonsumsi makanan atau minuman tertentu, seperti es di saat berbuka yang langsung dilanjut dengan makan makanan panas/ pedas juga bisa jadi penyebabnya.
    • Pasta gigi yang mengandung natrium sulfat.
    • Berhenti merokok. Sariawan bisa terjadi di masa-masa awal seseorang berhenti merokok.
    • Kondisi psikologis, misalnya gelisah atau stres.
    • Faktor-faktor lain seperti infeksi jamur dan kuman yang terjadi akibat mulut kekeringan selama berpuasa.

    Sariawan umumnya dapat pulih dengan sendirinya dalam waktu satu hingga dua minggu. Kendati demikian, penanganan secara mandiri dapat dilakukan guna mengurangi rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dialami, di antaranya dengan:

    • Menggunakan sedotan saat minum guna mengurangi rasa sakit.
    • Menggunakan pasta gigi yang tidak mengandung bahan-bahan yang memicu iritasi, seperti sodium laurel sulfat, serta memakai sikat gigi yang lembut untuk menggosok gigi.
    • Menghindari semua pemicu yang dapat memperparah luka sariawan.
    • Mengonsumsi makanan yang lembut dan menghindari makanan yang keras, pedas, asam, asin atau minuman panas hingga luka sariawan sembuh.

    Pemeriksaan ke dokter baru diperlukan jika:

    • Anda menderita sariawan secara berkali-kali.
    • Luka sariawan bertambah sakit atau menjadi merah yang mengindikasikan infeksi bakteri.
    • Sariawan tidak kunjung sembuh dalam waktu satu minggu (dengan obat) atau dua minggu (tanpa obat).

    Pencegahan Sariawan

    Sariawan dapat dicegah dengan langkah-langkah mudah. Di antaranya:

    • Menjaga kebersihan mulut (misalnya, rajin sikat gigi dan berkumur). Gunakan sikat gigi yang halus dan segera ganti sikat jika sudah berubah bentuk.
    • Merawat dan memeriksakan kondisi mulut serta gigi secara teratur ke dokter gigi.
    • Mengatasi masalah kesehatan kronis (misalnya HIV atau diabetes) yang dapat mengganggu keseimbangan bakteri sehingga menimbulkan sariawan.
    • Membatasi penggunaan obat kumur atau parfum mulut agar tidak merusak keseimbangan jumlah bakteri normal dalam mulut.
    • Membatasi konsumsi makanan dengan kadar gula yang tinggi dan makanan yang mengandung ragi.
    • Merawat serta menjaga kebersihan gigi palsu yang digunakan (jika menggunakan gigi palsu).
    • Berhenti merokok.
    • Membersihkan sela-sela gigi dengan dental floss atau benang gigi secara teratur.
    • Jika terdapat luka di rongga mulut, berkumurlah dengan obat kumur antiseptik selepas sahur dan berbuka puasa.
    • Untuk penanggulangan dari segi asupan makanan, konsumsi hidangan yang mengandung gizi yang cukup, terutama vitamin C, B12, dan zat besi.
    • Untuk mendapatkan vitamin C yang cukup, konsumsilah bayam, daun melinjo, daun singkong, genjer, katuk, kembang kol, sawi, jambu biji, jeruk, dan pepaya.
    • Sementara itu, agar asupan vitamin B12 atau B-kompleks terpenuhi, santaplah sajian berbahan dasar susu, telur, hati sapi, daging sapi, tempe, daging ayam, kacang-kacangan, dan sayuran hijau.
    • Agar asupan zat besi terpenuhi, konsumsilah bayam, daun ubi jalar, pokcoy, kacang kedele, kacang merah, tempe murni, daging ayam, daging sapi, telur ayam, dan ikan teri.
    • Sebaliknya, agar terhindar dari sariawan, jangan mengonsumsi makanan yang terlalu panas atau terlalu dingin, terlalu pedas, dan terlalu manis.
    • Nah, itulah cara mencegah penyakit sariawan saat berpuasa. Yuk, kita ikuti agar tubuh senantiasa sehat dan puasa terasa lebih nyaman. Selamat berpuasa dan semoga sehat selalu.
  2. Bau Mulut

    Masalah lain yang paling sering dijumpai adalah bau mulut. Kebanyakan dari kita tidak sadar bahwa bau mulut merupakan penyakit. Faktor penyebab masalah yang satu ini bisa bermacam- macam, diantaranya dapat disebabkan oleh kondisi gigi dan gusi yang kurang bersih, adanya sariawan, infeksi atau luka pada rongga mulut dan tenggorokan, pola konsumsi.

    Beberapa cara mengatasi bau mulut dan tenggorokan yang dapat dilakukan antara lain:

    1. Menjaga kebersihan rongga mulut dengan menyikat gigi minimal 2x sehari. Menyikat gigi dilakukan saat setelah sahur dan sebelum tidur. Hal ini berguna agar sisa-sisa makanan yang ada di rongga mulut dapat dibersihkan dan tidak diubah oleh bakteri di dalam mulut menjadi asam yang dapat mengakibatkan gigi berlubang, selain itu menyikat gigi berguna untuk mengatasi bau mulut.
    2. Membersihkan lidah, menggunakan alat pembersih lidah. Lidah merupakan salah satu tempat berkumpulnya bakteri, selain menyikat gigi jangan lupa bersihkan lidah dengan menggunakan alat pembersih lidah.
    3. Berkumur setiap kali mengkonsumsi makanan yang beraroma tajam.
    4. Hindari pola konsumsi dan pola hidup tidak sehat seperti merokok dan konsumsi minuman beralkohol.
    5. Penuhi kebutuhan tubuh akan cairan, dengan minum air putih yang cukup, minimal 8 gelas sehari. Selain menghindari terjadinya dehidrasi saat berpuasa, air putih juga berfungsi untuk tetap menjaga rongga mulut agar tidak asam, sehingga rongga mulut tidak terasa bau.
    6. Bagi yang menggunakan gigi palsu, lakukan perawatan secara teratur dan jagalah kebersihannya.
    7. Perbanyak makan makanan berserat tinggi seperti buah dan sayur.
      Perbanyak makan makanan seperti buah dan sayur. Kandungan vitamin dan mineral dalam buah dan sayuran dapat membantu menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Nah, itulah beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan bisa kita lakukan untuk mencegah dan mengatasi masalah sariawan dan bau mulut ketika menjalankan ibadah puasa. Tetaplah menjaga kesehatan gigi dan mulut kita supaya ibadah puasa kita lancar. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semuanya. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan. Salam sehat.