Sekilas, ketika kita mendengar kata sariawan, yang terlintas dalam pikiran kita adalah penyakit di sekitar mulut yang diderita hampir semua orang. Umumnya, sariawan dikenal tidak berbahaya dan mudah untuk disembuhkan. Namun di sisi lain, sariawan juga bisa menjadi suatu hal yang mengerikan. Sariawan yang tidak kunjung sembuh, dipercaya merupakan satu tanda kemungkinan kanker mulut. kita perlu mewaspadai sariawan yang sudah berlangsung cukup lama. Sesuatu yang tadinya tidak apa-apa bisa jadi masalah, kalau sariawan teriritasi terus maka sel-selnya akan berubah sifat. Dari yang tadinya baik-baik saja berubah sifat jadi berbahaya. Sel ini akan membelah diri menjadi banyak dan tidak terkendali yang disebut kanker.

Sariawan memang pada dasarnya bukanlah penyakit yang membahayakan. Penyakit ini biasanya timbul akibat mulut yang tidak sehat, stres, dan pola makan yang buruk. Namun, ketika sariawan terpapar zat-zat berbahaya, dapat menyebabkan sariawan kronis yang berujung pada kanker mulut. Seperti pada luka di luar rongga mulut normalnya dalam waktu dua minggu jika terjadi luka maka luka itu akan menutup dengan sendirinya. Namun pada sariawan yang menjadi gejala kanker mulut, jika dalam waktu minimal satu bulan tidak kunjung sembuh, maka pasien wajib melakukan konsultasi ke layanan kesehatan untuk melihat apa yang terjadi. Jadi sel kanker itu tidak bisa dikendalikan. Jadi kalau sariawan harusnya dua minggu sembuh ternyata tidak sembuh, mungkin karena dia sudah mengandung sel yang tidak bisa dikendalikan. Selain dari lamanya sariawan, membedakan sariawan normal dengan yang tidakbisa dilihat dari sakit atau tidaknya sariawan tersebut karena sariawan yang normal adalah yang terasa sakit.

Sel kanker dapat tumbuh di mana saja, termasuk di rongga mulut. Meski terbilang ganas dan mematikan, kanker rongga mulut dapat dicegah sejak dini. Namun, selama ini banyak penderita terlambat mendapatkan diagnosis dan sulit disembuhkan. Kanker rongga mulut terjadi karena adanya pertumbuhan massa atau jaringan pada jaringan lunak di rongga mulut yang tidak bisa dikendalikan.

Berdasarkan data global, insiden kanker mulut pada 2016 menempati peringkat keenam jumlah kanker terbanyak di dunia. Setiap tahunnya, terdapat 300 ribu kasus kanker mulut baru di dunia dan separuh dari itu meninggal dunia. Sebanyak 50 persen kejadian itu didominasi oleh negara Asia, dengan Asia Tenggara (yang di dalamnya termasuk Indonesia) menyumbang 11 persen. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat adanya kenaikan angka kanker mulut menjadi 5,6 persen sedangkan pada Riskesdas 2013 menunjukkan angka kanker mulut sebesar 1,4 persen. Saat ini kanker mulut terbukti semakin mengintai pada kelompok usia produktif. Dahulu terjadi pada usia 40 tahunan. Tapi, makin ke sini usianya makin meningkat. Penelitian tahun 2009 menemukan sebanyak 19,8 persen kanker mulut terjadi pada usia 22-34 tahun.

Angka harapan hidup penderita kanker rongga mulut terus menunjukkan peningkatan. Pada 2009, angka bertahan hidup hanya sekitar 13 bulan. Pada 2016 meningkat menjadi 24 bulan dan saat ini sudah berada di angka 30 bulan. Meski demikian, 50 persen dari penderita kanker mulut mengalami kematian kurang dari tiga tahun yang artinya kanker mulut patut mendapat perhatian lebih. Sehingga diperlukan suatu usaha deteksi dini terhadap kanker mulut.

Deteksi dini

Kanker rongga mulut ini dapat dikenali sejak dini. Berdasarkan penelitian dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kanker mulut berkembang dari lesi yang muncul di jaringan lunak mulut. Lesi merupakan segala bentuk perubahan pada jaringan mulut dari segi warna, bentuk, ukuran, tekstur, dan kekenyalan. Tekstur atau tampilan mukosa mulut yang normal itu berwarna merah muda dan kenyal. Jika terjadi perubahan warna menjadi putih, merah atau kombinasi keduanya, hal ini dapat menjadi petunjuk adanya lesi yang memerlukan perhatian.

Lesi yang muncul itu dapat berupa warna putih, merah, atau keduanya. Bisa pula berupa tonjolan atau titik-titik di rongga mulut. Lesi ini dapat tumbuh di bibir, lidah, dasar lidah, gusi, dasar mulut, langit-langit mulut, belakang pipi, dan kelenjar liur. Sebelum jadi kanker, hampir selalu muncul lesi. Namun, lesi kerap kali diabaikan karena tak menimbulkan rasa sakit. Kebanyakan orang beranggapan lesi sama seperti jamur dan sariawan yang dapat sembuh dengan sendirinya. Padahal, dalam banyak penelitian, lesi bisa berubah menjadi kanker dalam waktu 3-10 tahun. Hal ini jarang disadari oleh penderita karena selain tidak memperhatikan perubahan warna dan tekstur rongga mulut, penderita juga tidak merasakan sakit, sehingga gejala awal ini diabaikan. Selain itu, kita perlu memperhatikan juga jika mengalami sariawan. Pasalnya, sariawan yang tidak kunjung sembuh selama satu bulan dan tidak terasa sakit memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Penelitian menunjukkan, sebesar 64,9 persen kanker mulut bisa dicegah jika keberadaan lesi ini disadari sejak dini.

Periksa Mulut Sendiri (SAMURI) diperlukan untuk menghindari kemungkinan terkena kanker mulut. Sederhana namun penting, pendeteksian kondisi rongga mulut, melalui SAMURI, sendiri menjadi kewajiban yang harus dilakukan untuk terhindar dari kanker mulut. Terdapat sembilan titik yang patut dikontrol rutin oleh masing-masing individu. Sembilan titik tersebut meliputi bagian dalam bibir atas dan bawah, dinding pipi bagian dalam kanan dan kirinya, atap mulut, seluruh permukaan lidah, bagian bawah lidah bagian tengah, kanan, dan kirinya.

Jika terdapat perubahan pada jaringan lunak mulut yang mencakup ukuran, bentuk, tekstur, serta kekenyalan, sebaiknya segera menemui dokter. Samuri tersebut bisa dilakukan kapan saja agar tanda dan gejala yang sangat minim bisa ditemukan sebagai langkah pencegahan dini. Lakukan Samuri sesering mungkin karena perubahan bisa terjadi kapan saja dan tidak dipengaruhi hormon seperti pada kanker payudara. Perubahan yang paling sering terjadi biasanya di sekitar bagian pinggir U mulut bawah yang seperti iritasi kemerahan atau benjolan berwarna putih.

Peningkatan perhatian kita pada bagian rongga mulut diharapkan mampu mendeteksi kemungkinan timbulnya kanker mulut sedini mungkin. Apabila lesi prakanker dapat ditemukan dan kemunduran selnya belum terlalu jauh, serta respon pengobatan masih baik, maka angka bertahan hidup pasien dapat meningkat lebih dari 80 persen atau di atas 5 tahun. Dengan demikian, angka kematian dapat diturunkan.

Penyebab kanker rongga mulut

Penyebab utama yang sudah diteliti oleh WHO adalah rokok, alkohol, dan mengunyah pinang sirih. Mengunyah pinang sirih merupakan salah satu faktor terbesar. Pasalnya, pinang mengandung empat zat karsinogenik yang dapat memicu kanker. Penyebab kanker rongga mulut multi factorial dan kompleks. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadi kanker rongga mulut yaitu faktor local yang meliputi kebersihan rongga mulut yang jelek, iritasi kronis baik dari tambalan dan karies gigi. Faktor non local dapat berupa kebiasaan merokok, peminum alcohol yang berlebih, menyirih, virus, dan faktor host (pasien) meliputi usia, jenis kelamin, nutrisi, kondisi imunitas dan genetic.

Faktor risiko

Kanker rongga mulut juga dapat dicegah dengan menghindari faktor risiko. Faktor risiko itu meliputi kebiasaan merokok, alkohol, mengunyah pinang sirih, genetik, pola makan yang rendah buah dan sayur, infeksi jamur, kurangnya kebersihan gigi, terkena serat asbes dan stres. Virus HPV 16 (penyebab kanker serviks) juga dapat menimbulkan kanker rongga mulut melalui aktivitas seks oral.

Banyak mengonsumsi antioksidan yang didapat dari sayur dan buah-buahan dapat mencegah perkembangan sel kanker.

CategoryRongga Mulut