Olahraga adalah kegiatan yang menyenangkan sekaligus menyehatkan. Tubuh akan bergerak secara aktif dan pikiran pun jadi lebih segar. Olahraga memang menuntut kita untuk menggerakkan tubuh dengan konsentrasi dan koordinasi yang baik agar hasilnya pun maksimal. Banyak manfaat yang bias kita peroleh dari berolahraga.

Seiring dengan semakin merebaknya Covid-19, kegiatan olahraga masyarakat mau tidak mau menjadi lebih terbatas, karena adanya himbauan untuk melakukan physical distancing dan social distancing. Olahraga yang melibatkan banyak kontak fisik dengan orang lain tantunya harus dihindari. Nah, hal ini ternyata mendorong masyarakat untuk beralih ke olahraga bersepeda. Di jalan- jalan kota kita bisa menjumpai banyak masyarakat yang bersepeda, entah sekedar menikmati suasana kota atau memang dengan niat melatih tubuh dengan aktifitas fisik.

Namun, seolah berjalan beriringan, resiko cedera kerap kali mengikuti ketika kita melakukan aktifitas olahraga. Jika kita kehilangan fokus sedikit saja ketika olahraga, akibatnya bisa bermacam-macam mulai dari cedera ringan hingga yang lebih serius. Cedera olahraga merupakan suatu cedera yang terjadi saat melakukan aktivitas olahraga, baik saat berlatih, bertanding, ataupun saat melakukan berbagai aktivitas olahraga santai. Cedera olahraga dapat terjadi pada siapa saja, baik pada atlet profesional maupun individu non-atlet yang terlibat dalam kegiatan olahraga. Cedera olahraga tidak hanya akan menimbulkan dampak pada kondisi fisik seseorang, tetapi juga pada kondisi psikologis dan sosial seseorang. Oleh karena itu bagaimanapun setiap cedera olahraga perlu ditangani secara seksama.

7 Cedera yang Paling Sering Dialami saat Bersepeda, Antisipasi ya!

  1. Memar dan luka

    Berani bersepeda berarti berani menghadapi risiko terjatuh. Apalagi, ketika kita terjatuh dengan keras saat bersepeda dengan kencang, maka luka yang ditimbulkan akan semakin parah. Biasanya, memar, luka dan goresan ini hanya bersifat sementara dan bisa sembuh dengan obat antiseptik yang dioleskan ke luka.
    Setelah terjatuh, segera basuh luka dengan air mengalir lalu keringkan. Setelahnya, oleskan obat antiseptik atau krim antibiotik, lalu balut dengan kain kasa. Jika luka sudah mengering, lepas kain kasa dan biarkan terpapar udara. Namun, jika luka ini parah, kamu perlu perawatan medis dengan cara dijahit atau bahkan tindakan operasi.

  2. Lecet di area selangkangan

    Selangkangan kita memiliki risiko lecet setelah bersepeda, apalagi jika sadelnya keras. Durasi bersepeda pun bisa menimbulkan lecet, terlebih jika bersepeda selama berjam-jam. Efeknya, kita akan merasa tidak nyaman saat bersepeda, duduk maupun berjalan. Ada tiga tahap lecet, yakni abrasi kulit, folikulitis dan abses.

    Untuk mencegahnya, kita dapat mengganti sadel sepeda yang keras menjadi lebih empuk. Sehingga, sadel tidak menggesek kulit dan menyebabkan lecet. Jangan lupa gunakan celana khusus bersepeda yang memiliki bantalan busa empuk di bagian selangkangan. Pilih busa yang lentur dan cukup tebal untuk melindungi kita dari lecet.

  3. Fraktur

    Menurut jurnal berjudul “The Epidemiology of Cycling Fractures in Adults” yang dipublikasikan di tahun 2013, 90,5 persen fraktur yang dialami oleh pesepeda adalah fraktur ekstremitas atas. Sementara, data dari Royal Infirmary of Edinburgh menyebut bahwa 259 dari 7.100 kasus fraktur disebabkan karena bersepeda.

    Rata-rata usia pasien fraktur akibat bersepeda adalah 39,3 tahun. 86,5 persen dari semua kasus fraktur bersepeda terjadi di bagian atas tungkai, 10,8 persen terjadi di tungkai bawah dan 2,7 persen terjadi di tulang belakang atau panggul. Lebih lanjut, 64,5 persen fraktur disebabkan karena kecelakaan lalu lintas saat bersepeda.

  4. Otot bagian atas tubuh melemah

    Keuntungan bersepeda adalah memperkuat otot bagian bawah tubuh, termasuk otot betis dan paha. Sementara, otot bagian atas tubuh cenderung diabaikan dan akhirnya melemah, misalnya punggung atas menjadi tidak sehat dan membungkuk.

    Apabila kita lalai melatih otot bagian atas tubuh, maka akan menyebabkan masalah muskuloskeletal dan nyeri. Untuk mencegahnya, latih otot lengan, punggung dan perut. Kamu bisa melatihnya di pusat kebugaran atau gym. Selain itu, kamu bisa melatih otot tubuh bagian atas dengan berenang.

  5. Nyeri lutut

    Biasanya, nyeri ini timbul ketika bersepeda dalam durasi lama dan berlatih terlalu keras. Saat mengayuh, jaringan ikat akan tegang, lalu menyebabkan peradangan dan rasa sakit. Ciri-ciri nyeri lutut adalah mengalami sakit di bagian tempurung lutut (patela).

    Nyeri lutut di bagian depan lebih sering terjadi daripada di bagian belakang. Untuk mengatasinya, disarankan untuk menurunkan sadel dan memajukan sadel lebih dekat ke setang sepeda. Sebagai bentuk pencegahan, lakukan pemanasan lebih dulu selama 15 menit, terlebih jika hendak bersepeda dengan durasi lama atau jarak jauh.

  6. Pergelangan kaki terkilir

    Pernahkah Sahabat Sehat bertanya-tanya, mengapa pergelangan kaki terasa nyeri dan terkilir setelah bersepeda? Ini terjadi ketika kita mengayuh pedal sepeda, lalu otot kita tertarik ke arah yang salah. Penyebab lainnya adalah kaki yang datar dan bisa diatasi dengan sepatu orthotic.

    Pergelangan kaki terkilir karena kita mengayuh pedal yang terlalu tinggi untuk kaki atau bersepeda di tempat yang agak curam dan terlalu memaksakan diri. Untuk mengatasinya, kompres es pada bagian yang sakit dan minum obat antiinflamasi untuk meredakan nyeri.

  7. Disfungsi seksual

    Ini mungkin terdengar seperti mimpi buruk bagi kaum adam. Apakah benar bersepeda bisa menyebabkan disfungsi seksual? Faktanya, laki-laki yang menghabiskan waktu terlalu banyak untuk bersepeda, lebih rentan mengalami masalah ereksi. Akan semakin parah jika sadel sepeda terlalu keras dan terjadi goncangan saat bersepeda. Penjelasannya, duduk di sepeda dalam waktu yang lama akan memberi tekanan pada perineum, area yang membentang antara anus dan penis. Padahal, di dalam perineum ada arteri dan saraf yang memasok darah kaya oksigen ke penis. Alhasil, disfungsi seksual bisa terjadi!

Apa yang harus dilakukan ketika terjadi cedera?

Ketika terjadi cedera pada tubuh saat berolahraga, maka segera hentikan segala aktivitas. Tetap memaksa tubuh untuk berolahraga dan menahan rasa sakit hanya akan memperparah kondisi cedera. Pada tahapan ini, bagian tubuh yang mengalami cedera akan mengalami inflamasi, yaitu terasa sakit, bengkak, berwarna kemerahan dan terasa panas. Gejala ini menggambarkan reaksi kimia di otot yaitu pemicuan terjadinya perbaikan di jaringan otot yang rusak. Jika tahap ini tidak ditangani dengan tepat, maka dapat menimbulkan kerusakan jaringan yang lebih parah.

Pengobatan cedera biasanya diawali dengan melakukan metode “RICE” yaitu Rest, Ice, Compression, and Elevation untuk membantu menghilangkan rasa sakit, mengurangi pembengkakan, dan mempercepat penyembuhan.

  • Rest. Istirahatkan bagian tubuh yang mengalami cedera.
  • Ice. Letakkan bungkusan es (ice pack) pada bagian tubuh yang mengalami cedera. Lakukan selama 20 menit, 4 – 8 kali sehari.
  • Compressing. Balut bagian tubuh yang mengalami cedera dan ditekan agar tidak terjadi pembengkakkan.
  • Elevation. Tinggikan posisi bagian tubuh yang mengalami cedera agar transportasi aliran darah kembali lancar.

1

Setelah melakukan metode RICE, jika kondisi cedera tidak kunjung membaik, biasanya tenaga ahli akan melakukan beberapa tindakan lain sesuai dengan cedera yang dialami, diantaranya :

  • Obat Anti-Inflamasi Nonsteroid (NSAIDs)

    Obat anti inflamasi biasanya diberikan untuk mengurangi rasa sakit dan meredakan bengkak, contohnya aspirin atau ibuprofen.

  • Imobilisasi

    Ini adalah pengobatan umum pada cedera, yaitu dengan sling, splint dan gips untuk melindungi bagian tubuh yang cedera dari gerakan dan mencegah kerusakan yang lebih parah.

  • Operasi

    Pada kondisi teretentu, tenaga ahli harus melakukan tindakan operasi untuk memperbaiki cedera. Operasi biasanya dilakukan pada kondisi cedera tendon robek, ligamen, dan fraktur (patah tulang).

  • Terapi

    Contoh terapi yang biasa diberikan yaitu Arus listrik ringan (electrostimulation), gelombang suara (ultrasound) dan pijat (massage).

Selanjutnya pemulihan cedera masuk ke tahap poliferasi, yaitu tahap dimana jaringan otot yang rusak sudah berangsur hilang dan mulai tumbuh jaringan otot baru sedikit demi sedikit. Pertumbuhan jaringan baru ini berlangsung hingga jaringan terbentuk dengan sempurna dan siap menggantikan jaringan sebelumnya yang sudah rusak.

Tahapan terakhir pada pemulihan cedera adalah tahap rehabilitasi. Pada tahap ini, bagian tubuh yang mengalami cedera dilatih dan mulai digerakkan secara perlahan-lahan dan bertahap untuk mengembalikan fungsi normalnya, termasuk pemulihan kekuatan, daya tahan dan fleksibilitas. Tahap ini tidak boleh dilakukan dengan terburu-buru agar cedera dapat sembuh total dan tidak menimbulkan cedera berulang (repetitive injury) di kemudian hari.

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah cedera ?

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk meminimalisir terjadinya cedera, diantaranya yaitu gunakan perlengkapan olahraga yang benar dan sesuai (contohnya: sepatu), lakukan pemanasan dengan baik sebelum melakukan olahraga, gunakan teknik yang tepat, gunakan waktu istirahat dengan baik, perhatikan asupan cairan dan makanan, dan yang terakhir adalah lakukan peregangan setelah melakukan olahraga. Pastikan juga bahwa kita mematuhi aturan lalu lintas ya, sehingga kita tetap aman saat bersepeda. Selamat berolahraga, Salam Sehat.

Ditulis oleh : Daniel Tristo, dr. MARS.

Sumber : forbes.com, medicalnewstoday.com, interest.com, sfgate.com, activeweekender.com