Walaupun sudah melakukan aktifitas dengan hati-hati, tapi luka bisa terjadi di mana saja dan disebabkan oleh apa saja. Luka yang dialami pun bisa beragam, mulai dari luka gores, luka sayat, luka terbakar, bahkan luka akibat tertusuk duri atau benda lain. Bila terjadi luka, memberikan penanganan yang tepat merupakan hal yang penting, agar terhindar dari bahaya infeksi, maupun mencegah luka semakin membesar. Namun, banyak sekali mitos yang beredar di masyarakat tentang penanganan luka yang kurang tepat.

Simak yuk beberapa mitos dan fakta yang beredar di masyarakat, agar Anda tidak salah dalam menangani luka.

  1. Membersihkan Luka dengan Alkohol Mempercepat Penyembuhan – MITOS
    Alkohol tidak dianjurkan untuk membersihkan luka. Alkohol memang memiliki kemampuan disinfektan, namun lebih tepat digunakan untuk disinfeksi medis dan dilakukan oleh dokter ahli. Jika alkohol digunakan untuk membersihkan luka, sel – sel sehat disekitar luka bisa ikut menjadi rusak, sehingga mengganggu proses penyembuhan, selain itu ada juga kemungkinan alkohol masuk ke dalam aliran darah lewat luka. Nah, cara terbaik untuk membersihkan luka, terutama luka kecil adalah dengan menggunakan air mengalir ya.
  2. Luka Harus Dibiarkan Terbuka Agar Tetap Kering – MITOS
    Penelitian menunjukkan bahwa luka yang tertutup akan sembuh lebih cepat dan mengurangi resiko infeksi saat penyembuhan. Ini juga untuk mencegah anak mencabuti keropeng (luka yang hampir kering) maupun menyentuh lukanya, suatu kebiasaan yang bisa mengakibatkan infeksi. Jadi membiarkan luka terbuka agar tetap kering itu kurang tepat.
  3. Jika Bernanah Berarti Infeksi – BISA MITOS BISA FAKTA
    Sebelum keropeng terbentuk, wajar jika luka mengeluarkan nanah kekuningan. Ini bisa berarti tubuh sedang mencoba membuat keropeng untuk melindungi luka. Jadi jangan panik ya jika luka Anda bernanah. Luka Anda bisa terbilang infeksi jika: nanah kental, berwarna hijau serta berbau tidak sedap.
  4. Bila Terasa Gatal, Berarti Luka Dalam Proses Sembuh – FAKTA
    Proses penyembuhan dapat menyebabkan gatal. Kulit disekitar luka mulai saling tarik menarik selama proses penyembuhan, inilah yang mengakibatkan gatal. Rasa gatal juga bisa timbul karena alergi salep, atau terdapat infeksi seperti ragi atau jamur, jadi pastikan Anda mengetahui jenis alergi dan jangan lupa menutup luka agar tidak infeksi.1
  5. Luka Harus Tetap Lembab – FAKTA
    Menjaga kelembaban luka dapat membantu menyembuhkan luka lebih cepat dan dapat membantu menjaga perban menempel kuat (sulit lepas). Hal ini berlaku untuk luka besar dan goresan. Untuk menjaga daerah luka tetap bersih, oleskan tipis salep antibiotik untuk membantu mencegah infeksi.
  6. Air Laut Mempercepat Penyembuhan Luka – MITOS
    Ketika kamu sedang berlibur ke pantai dan mendapati luka, pernahkah kamu mendengar mitos air laut bisa membantu menyembuhkan luka? Air laut memiliki kandungan garam yang dipercaya bisa membuat luka jadi lebih cepat kering. Padahal, faktanya tidaklah demikian karena air laut bisa saja terkontaminasi oleh zat-zat berbahaya yang justru membuat luka bisa terinfeksi. Air laut berpotensi mengandung sejumlah mikroba seperti cacing parasit dan amoeba yang dapat menginfeksi tubuh.
  7. Air Liur / Saliva Bisa Menyembuhkan Luka – FAKTA
    Air liur secara ilmiah memiliki zat histatin yang dapat membantu proses penyembuhan luka. Histatin merupakan zat yang diperoleh dari protein yang dihasilkan air liur. Luka akan lebih cepat sembuh jika terkena histatin sebab histatin mampu membunuh bakteri pada luka, sehingga menghindari infeksi.
  8. Mengoleskan Ramuan Alami Pada Luka Terbuka Mempercepat Penyembuhan
    Sebagian besar masyarakat Indonesia masih percaya dengan keampuhan ramuan tradisional sebagai obat penutup luka. Ramuan yang berbahan dasar tumbuhan alami ini dianggap jauh lebih aman dibandingkan obat-obatan kimia. Sayangnya, masih banyak orang yang salah dalam menggunakan ramuan alami ini. Faktanya, ramuan yang dibuat mandiri sebaiknya tidak diaplikasikan langsung pada luka jaringan terbuka maupun luka operasi yang masih baru. Karena, ramuan ini justru bisa jadi memicu iritasi, dan infeksi karena tidak dibuat dari bahan-bahan yang steril. Sebaiknya, oleskan ramuan alami pada luka yang sudah cukup mengering, yakni 7-14 hari setelah kamu mendapatkan luka.

Jenis Luka dan Penanganannya

Perbedaan karakteristik yang dimiliki luka terbuka dengan luka tertutup tentunya berbeda dan membutuhkan penanganan yang juga berbeda agar bisa membantu proses penyembuhannya lebih cepat. Pada luka yang terbuka, jaringan kulit terluar mengalami kerusakan yang membuat jaringan di bawahnya terlihat dengan lingkungan eksternal. Sedangkan pada luka tertutup, jaringan kulit terluar tetap utuh, hanya saja efeknya mengenai jaringan kulit di dalamnya.
Berikut adalah beberapa jenis luka dan bagaimana penanganan pertamanya yang sesuai.

  1. Luka terbuka

    Jika luka tergolong ringan, berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegahnya dari infeksi.

    1. Luka lecet2
      Luka lecet atau abrasi terjadi ketika kulit bergesekan dengan permukaan yang kasar atau keras. Biasanya luka jenis ini tidak mengeluarkan banyak perdarahan, tetapi luka perlu digosok dan dibersihkan agar tidak infeksi. Caranya, cuci tangan Anda sampai bersih atau pakai sarung tangan. Kemudian bersihkan luka dengan menggosok lembut menggunakan sabun, air, dan lap bersih. Oleskan salep antibiotik atau obat luka, lalu balut area yang terluka dengan perban. Jangan lupa cuci tangan kembali setelahnya.
    2. Luka sobekan3
      Dikenal juga dengan sebutan laserasi, luka ini disebabkan oleh kecelakaan ketika menggunakan pisau atau peralatan tajam lainnya. Jika luka tidak terlalu dalam, Anda bisa melakukan penanganan sendiri. Setelah mencuci tangan, bersihkan luka di bawah air mengalir dengan sabun ringan ber-pH rendah. Beri tekanan pada luka, bisa menggunakan kapas atau kasa steril. Angkat bagian tubuh yang terluka lebih tinggi dari dada untuk mengendalikan perdarahan. Tutup luka dengan perban.
    3. Luka tusukan4
      Luka ini biasanya disebabkan oleh benda tajam yang runcing seperti paku atau jarum. Kebanyakan luka tusuk tidak mengeluarkan banyak darah, tapi jika terlalu dalam bisa saja merusak organ atau lapisan di bawahnya. Bila Anda ingin melakukan penanganan pertama pada jenis luka ini, cara yang sesuai adalah mencuci luka di bawah aliran air sabun yang kuat. Oleskan larutan antiseptik dan balut luka dengan perban. Jangan menggunakan salep atau membalut luka ini terlalu ketat karena malah akan meningkatkan risiko infeksi. Agar lebih memastikan bahwa luka baik-baik saja, lebih baik segera pergi ke dokter untuk mengetahui pencegahan infeksi yang akurat.
    4. Luka bakar5
      Luka bakar bisa diakibatkan oleh panas yang berlebih seperti paparan sinar matahari, kontak dengan api, bahan kimia, atau listrik. Untuk mengatasinya, pertama dinginkan dahulu area yang terbakar di bawah air dingin yang mengalir atau tempelkan kompres dingin sampai sakitnya berkurang. Jika kulit mulai melepuh dan pecah, bersihkan dengan air. Oleskan salep antibiotik kecuali jika muncul ruam. Setelah luka mendingin, oleskan losion untuk mencegah pengeringan. Tutup luka dengan longgar menggunakan kasa steril. Beberapa halyang tidak boleh dilakukan pada luka bakar : 

      • Jangan oleskan minyak kelapa, minyak zaitun, atau minyak goreng. Karena minyak dapat menahan panas dan membuat kulit akan terus terbakar.
      • Ketika luka bakar telah melepuh dan menggelembung, jangan dipecahkan, Karena hal itu bisa menyebabkan infeksi.
      • Jangan meletakkan es langsung ke atas luka bakar, karena hal ini bisa memperparah kulit yang luka.
      • Jangan mengoleskan putih telur pada luka bakar, karena bisa menyebabkan infeksi bakteri dan reaksi alergi.
      • Hindari paparan sinar matahari, karena kulit yang mengalami luka bakar akan sangat peka terhadap sinar matahari.
      • Jangan mengoleskan mentega atau margarin ke luka bakar, karena dapat menimbulkan infeksi.
      • Jangan mengoleskan pasta Gigi / Odol.
        Pasta Gigi/Odol memiliki kandungan pembersih kotoran pada gigi, seperti calcium carbonate, potassium citrate, atau zat pemutih gigi yang berbahaya jika di oleskan pada luka bakar. Jika kandungan-kandungan ini digunakan selain pada gigi, akan menyebabkan iritasi dan memperparah kondisi kulit yang terbakar.
  2. Luka tertutup

    Luka yang tertutup disebabkan oleh trauma tumpul yang terjadi saat terjatuh atau mengalami kecelakaan kendaraan bermotor. Meski tidak merusak jaringan kulit luar, kerusakan yang diakibatkan bisa mencapai otot, organ dalam, dan tulang. Beberapa jenis luka tertutup di antaranya sebagai berikut.

    • Kontusio6
      Kontusio merupakan cedera olahraga yang paling umum. Trauma tumpul jenis ini merusak pembuluh darah kecil, kapiler, otot, dan jaringan di bawahnya. Pada beberapa kasus, kontusio juga dapat menyebabkan kerusakan pada tulang. Kemunculannya ditandai dengan memar berwarna kemerahan hingga kebiruan di area yang terluka.
    • Hematoma7
      Serupa dengan kontusio, hematoma juga menyerang pembuluh darah kecil dan kapiler yang mengakibatkan pengumpulan darah. Bedanya, hematoma muncul berupa benjolan kenyal seperti karet bernama lesi. Jenis luka yang tertutup juga harus segera diberi penanganan yang sesuai agar bisa mengontrol rasa sakit serta mernjaga peradangan tersebar seminimal mungkin.
      Jika masalahnya ringan, Anda cukup mengompres menggunakan es atau air dingin pada area yang terluka.
      Namun pada kasus yang lebih serius, dokter bisa saja melakukan pembedahan. Salah satunya pada sindrom kompartemen, dokter akan membedah luka untuk membiarkannya terbuka selama dua sampai tiga hari sambil ditutup dengan perban steril untuk meredakan pembengkakannya. Jika ada kemungkinan patah tulang, penanganan luka cedera ditambah pemindaian dengan x-ray juga mungkin perlu dilakukan. Pada trauma parah, bentuk pemindaian lain seperti USG, CT Scan, dan MRI akan membantu mendeteksi kerusakan organ di dalamnya.

CategoryLuka