Gangguan psikosomatis melibatkan tubuh dan pikiran. Penyakit ini memiliki gejala fisik yang berasal dari penyebab mental atau emosional dan yang paling umum terjadi adalah stres, kecemasan, dan depresi. Berbagai macam gangguan kejiwaan mempengaruhi struktur oral dan sekitarnya dan di masa pandemik ini dimana kondisi ini menyebabkan stress dan depresi serta cemas di kalangan masyarakat yang seringkali tidak disadari namun muncul dalam bentuk keluhan di rongga mulut.

Hubungan Gangguan psikosomatis dan Kelainan di Rongga Mulut

Faktor emosional dan psikologis dapat mengganggu berbagai macam fungsi hormonal, vaskular dan otot, yang kesemuanya dapat menyebabkan perubahan perifer yang bervariasi mulai dari nyeri, gangguan pada gerakan rahang, xerostomia dan ulserasi. Rongga mulut secara langsung atau simbolis terkait dengan naluri dan hasrat utama manusia. Penyakit rongga mulut dengan etiologi psikosomatis telah lama dikenal dalam dunia kedokteran dan faktor mental atau emosional dapat berperan sebagai faktor risiko yang dapat mempengaruhi permulaan dan perkembangan gangguan rongga mulut.

Gangguan psikosomatis oral meliputi: Oral lichen planus (OLP), recurrent apthous stomatitis (RAS), Erythema multiforme (EM) dan mucous membrane pemphigoid (MMP), Necrotizing Gingivitis, burning mouth syndrome, gangguan sendi temporo-mandibular (TMD) dan nyeri wajah atipikal. Gangguan mulut yang paling umum yang dapat dikaitkan dengan stres adalah OLP, RAS, dan TMD.

Studi penelitian oleh Maheswari et al mengamati bahwa tingkat stres yang lebih besar terjadi pada pasien dengan RAS dan OLP. Depresi sangat tinggi pada pasien dengan BMS, dan tingkat kecemasan lebih tinggi Tingkat kecemasan yang tinggi menyebabkan peningkatan kadar kortisol serum (suatu metode penelitian yang telah digunakan sebagai indikator dalam studi evaluasi kecemasan). Dalam kondisi seperti nyeri dan kecemasan, banyak perubahan metabolik dan endokrin terjadi, dan di antaranya peningkatan kadar kortisol serum adalah salah satu efek fisiologis terpenting.

Hormon kortisol sangat penting untuk kesehatan. Ini diproduksi oleh kelenjar adrenal yang berada di atas ginjal. Kekurangan kortisol menyebabkan kelelahan, kelelahan kronis dan penyakit pada sistem endokrin seperti penyakit Addison. Kortisol membantu mengatur respons peradangan dalam tubuh serta menyeimbangkan gula darah pada saat stress. Efek dari meningkatnya kadar kortisol antara lain:

  • menganggu fungsi insulin yang biasa berperan dalam keseimbangan kadar gula darah
  • menghambat IgA dalam serum yang berperan dalam system imun
  • merangsang sekresi asam lambung dan ion renal-hidrogen
  • menghambat kehilangan natrium melalui usus halus dimana natrium diperlukan untuk kestabilan elektrolit
  • bertindak sebagai hormon diuretic sehingga biasa menjadi sering buang air kecil sehingga tubuh lebih cepat kekurangan cairan
  • dapat melemahkan aktivitas sistem kekebalan
  • mengurangi pembentukan tulang

Kortisol biasanya diproduksi dalam jumlah yang lebih tinggi saat stres hadir. Baru-baru ini, banyak perhatian telah diarahkan pada efek kelebihan kortisol. Saat ini, dengan tingkat stres yang lebih tinggi daripada di masa lalu, lebih banyak orang memiliki kadar kortisol berlebih.

drg. Shelly Lelyana, Sp.PM

Referensi :

Rai A, Kumar A., Stress Related Oral Disorder: An Update, AERJ, 9:(4), 2017

Cruz AF, Carvaho BCD, De Lacerda JCT, Carneiro CM, Santos PV, A Carneiro AC, Resende RG, Association Of Stress and Oral Lesions, Oral Surgery, Oral Medicine, Oral Pathology and Oral Radiology, 129 (1), 2020, p. 137-8