Kulit adalah organ terbesar di tubuh kita. Kulit memiliki banyak fungsi yang penting untuk tubuh, antara lain:

  • Sebagai pelindung tubuh dari lingkungan luar, seperti dari trauma,benturan, luka, gesekan, sinar ultraviolet, dsb
  • Mengatur Suhu tubuh
  • Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
  • Sebagai indra peraba untuk merasakan stimulus sentuhan, panas, dingin, juga nyeri
  • Berperan dalam pembentukan vitamin-D
  • Berperan dalam sistem kekebalan tubuh1

Apa yang terjadi saat kulit seseorang mengalami iritasi?

Sabun atau produk pembersih tangan termasuk produk antiseptic pada umunya mengandung alcohol, larutan klorin, dan sodium lauril sulfat(SLS) dengan kadar yang beragam. Bahan-bahan ini dapat menyebabkan iritasi kulit dengan cara : (1) melarutkan kandungan protein stratum korneum (lapisan terluar kulit), (2) menyebabkan kerusakan pada lapisan lemak alami kulit, (3) penurunan tingkat kerapatan antar sel-sel kulit dan (4) mengurangi kemampuan kulit dalam mengikat air. Semua proses ini dapat terjadi sejalan dengan frekuensi penggunaan sabun/deterjen (yang dapat meng-emulsi lemak) dan alokohol (yang dapat melarutkan lemak) yang semakin sering. Hal-hal ini juga yang menyebabkan kulit tidak dapat mempertahankan kandungan air yang ada di dalamnya, sehingga terjadi proses iritasi dan inflamasi.2

Gejala yang paling umum dirasakan adalah rasa kering atau rasa terbakar, kulit terasa kasar, warna kulit menjadi kemerahan, kulit terkelupas, atau tampak pecah-pecah. Pada awalnya kulit akan tampak keriput karena terlalu sering terkena air, kemudian kulit mulai mengelupas dan terlihat sisik pada permukaan kulit, yang diakibatkan hilangnya lapisan lemak kulit. Selanjutnya kulit menjadi lebih tipis, warna kulit menjadi kemerahan, dan timbul lenting, yang dapat disertai rasa perih atau gatal. Sela jari merupakan lokasi yang paling sering terjadi iritasi, disusul oleh ujung jari, buku jari tangan, punggung tangan , dan telapak tangan.

Apa saja yang dapat dilakukan untuk mengurangi efek samping tersebut?

Memilih produk yang lebih sedikit menyebabkan iritasi.

Dikarenakan pada masa pandemi ini masyarakat didorong untuk lebih sering membersihkan tangan, maka frekuensi kulit tangan terpapar oleh deterjen dari sabun, bahan antiseptik, ataupun alkohol jelas jauh meningkat. Seperti yang sudah dibahas di bagian sebelumnya, bahan-bahan yang terkandung dalam sabun dan bahan pembersih tangan dapat menyebabkan kulit kering juga mengiritasi kulit. Bahan-bahan tersebut sebenarnya bersifat iritan lemah, namun karena penggunaan dalam frekuensi yang sering-lah yang menyebabkan akhirnya tangan menjadi kering atau teriritasi. Berat atau ringannya gejala iritasi yang timbul sejalan dengan jumlah paparan. Oleh karena itu dalam membersihkan tangan disarankan untuk menggunakan hand-sanitizer/ cairan pembersih tangan yang mengandung pelembab, dan menghindari bahan yang mengandung antiseptik khususnya bagi mereka memiliki kondisi kulit atopi, kulit yang cenderung kering, dan lansia.

Mengurangi proses iritasi kulit

Kebiasaan tertentu dalam mencuci tangan dapat meningkatkan risiko iritasi kulit, dan karena itu harus dihindari. Sebagai contoh, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir tepat sebelum atau setelah menggunakan produk berbahan dasar alcohol secara rutin bukan hanya tidak perlu, namun juga dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Contoh lain yang dapat terjadi pada tenaga kesehatan adalah mengenakan sarung tangan ketika tangan masih basah, baik setelah mencuci tangan dengan sabun ataupun menggunakan alcohol. Hal ini dapat meningkatkan risiko terjadinya iritasi kulit. Oleh karena itu, disarankan untuk tidak membersihkan tangan menggunakan alkohol sebelum atau sesudah mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, dan untuk membiarkan tangan kering seluruhnya sebelum mengenakan sarung tangan.

Selain itu, kebiasaan lain yang turut mendukung terjadinya iritasi kulit meliputi mencuci tangan dengan durasi yang terlalu lama, aliran air yang terlalu keras, dan menggunakan air panas. Hal-hal tersebut juga turut menyebabkan rusaknya sawar kulit dan lapisan alami lemak kulit, sehingga timbul iritasi. Cara cuci tangan yang dianjurkan adalah dengan mengikuti anjuran WHO, yaitu terdiri dari 6 langkah dengan durasi 20-40 detik dengan menggunakan cairan pembersih tangan berbasis alcohol, dan 40-60 detik menggunakan sabun dan air mengalir. Hindari mencuci tangan terlalu lama, menggosok dan menggunakan aliran air yang terlalu keras, juga menghindari mencuci tangan menggunakan air panas.

Menggunakan pelembab

Pelembab tangan baik dalam bentuk lotion ataupun krim pada umumnya mengandung humektan, lemak, dan minyak. Kandungan ini dapat meningkatkan kadar air kulit dan menggantikan lapisan lipid kulit yang terganggu atau berkurang, dimana lapisan ini berperan penting dalam fungsi kulit sebagai pelindung. Penggunaan produk pelembab secara rutin dapat mencegah juga memulihkan keadaan iritasi kulit akibat penggunaan produk pembersih tangan ataupun kegiatan mencuci tangan.

Selain menjaga kulit tangan dari bahan yang dapat menyebabkan kulit kering atau iritasi, perlu juga diperhatikan untuk menjaga kulit secara keseluruhan agar tetap sehat, antara lain dengan:

  1. Selalu menjaga kebersihan kulit. Mandi dengan menggunakan sabun merupakan salah satu cara baik dalam menjaga kebersihan kulit. Bila kulit Anda sensitif atau memiliki alergi, pilih produk yang hipo-allergenic dan bebas pewangi,
  2. Lindungi kulit dari bahaya sinar UVA dan UVB matahari. Selalu oleskan sunscreen minimal 30 menit sebelum beraktivitas di bawah sinar matahari. Usahakan untuk memilih produk sunscreen minimal SPF 30 dan PA +++.
  3. Cegah kulit dehidrasi dengan mengonsumsi makanan sehat bergizi, kaya serat serta banyak minum air.
  4. Alkohol dan rokok merupakan musuh besar kulit. Segera hentikan kebiasaan buruk ini untuk menjaga kesehatan kulit.

Apa saja yang perlu diperhatikan dalam memilih pelembap?

Pelembab merupakan komponen yang penting dalam menjaga kulit agar tetap terhidrasiBerikut beberapa rekomendasi untuk memilih dan menggunakan pelembap kulit yang benar:

  1. Pilih pelembap yang lebih sedikit mengandung pengawet, pewangi, dan pewarna. Komposisi dapat dilihat pada label kemasan.
  2. Bila sedang aktif bekerja, pilih pelembap dengan kandungan air lebih tinggi, misalnya berbentuk krim atau lotion. Bila sudah istirahat di rumah, sebelum tidur dapat menggunakan pelembap berbentuk salep yang lengket, yang dapat mempercepat regenerasi kulit. Contohnya petroleum jelly atau vaselin album.
  3. Disarankan mengoleskan pelembap pada permukaan kulit minimal 3x dalam sehari. Lebih baik setelah mencuci tangan atau masih dalam keadaan lembap.
  4. Jumlah yang dioleskan sebanyak 1 gram (2 ruas jari) per kali pengolesan untuk keseluruhan permukaan kulit kedua tangan.
  5. Pastikan seluruh permukaan kulit tangan diolesi pelembap, termasuk sela jari.
  6. Ulangi pemakaian bila kulit dirasa masih kering atau gatal/perih

Pelembap merupakan terapi utama yang dapat digunakan untuk mencegah dan mengobati bila sudah terjadi iritasi. Hingga saat ini tidak ada obat minum yang dapat dianjurkan untuk memperbaiki kondisi tersebut. Penting diketahui bahwa tidak ada pelembap yang ideal untuk semua orang atau semua kondisi, sehingga terkadang perlu mencoba beberapa pelembap yang aman dan nyaman untuk digunakan berulang kali. Apabila reaksi iritasi atau alergi semakin berat atau tidak bisa diatasi dengan pelembap saja, silahkan segera berkonsultasi ke dokter spesialis dermatologi dan venereologi.

Referensi:

Benedetti, J. 2019. Structure and Function of The Skin, Merck Manual; consumer version website (https://www.merckmanuals.com/home/skin-disorders/biology-of-the-skin/structure-and-function-of-the-skin)

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK144008/#parti_ch14.s3

Budianti, W.K., Soebaryo, R.W.. 2020. Menjaga Tangan Tetap Sehat Meskipun Kerap Mencuci Tangan Pada Era Pandemi COVID-19. SATGAS COVID-19 PP PERDOSKI 2017-2020.

https://www.perdoski.id/article/detail/1165-fungsi-kulit-dan-cara-tepat-menjaga-kesehatan-kulit

Gambar-1 : https://pengajar.co.id/struktur-kulit/

Gambar-2 : https://skinlibrary.co.uk/blogs/librarian-edits/skin-barrier

Oleh: Monica Amelia, dr.