Pepatah mengatakan mencegah lebih baik daripada mengobati. Namun, pada kenyataannya lebih banyak orang yang melakukan tindakan pengobatan daripada pencegahan. Contohnya dalam bidang kedokteran gigi, kebanyakan orang datang ke dokter gigi setelah giginya berlubang. Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, 81-82 dari 100 anak usia 3-4 tahun di Indonesia telah mempunyai lubang pada gigi susunya, lebih parah lagi, 92-93 dari 100 anak usia 5-9 tahun juga mempunyai lubang pada giginya. Melalui Riset tersebut juga diketahui bahwa sebagian besar penduduk Indonesia telah mempunyai lubang pada giginya.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mempunyai visi untuk membuat Indonesia bebas karies tahun 2030. Hal tersebut akan sangat mustahil tercapai jika masyarakat belum mengetahui visi dan misi tersebut. Sepuluh tahun bukan merupakan waktu yang singkat. Kita perlu berfokus juga pada menciptakan generasi-generasi penerus yang bebas lubang pada giginya.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengubah pemikiran bahwa ke dokter gigi hanya jika sakit saja. Orang tua perlu memperkenalkan lingkungan kedokteran gigi pada anaknya sejak dini, bukan ketika anaknya sudah merasa sakit gigi. Mengapa? Ketika anak sudah sakit gigi, biasanya dokter perlu melakukan tindakan-tindakan medis yang kurang menyenangkan bagi anak kecil. Hal tersebut dapat menimbulkan trauma di kemudian hari. Di lain pihak, jika anak diperkenalkan dengan dunia kedokteran gigi sejak dini maka anak tersebut akan terbiasa melihat alat-alat kedokteran gigi yang begitu bermacam-macam tanpa merasa takut. Asosiasi Dokter Gigi Anak Amerika menyarankan agar anak-anak mulai diperkenalkan pada dunia kedokteran gigi sejak gigi pertama tumbuh, dan orang tua tetap berfokus pada kesehatan gigi anaknya hingga setidaknya 42 bulan pertama kehidupannya.

Perkenalan dunia kedokteran gigi kepada anak-anak dapat dimulai dengan memperkenalkan sikat gigi ketika gigi pertama tumbuh. Namun, sebelum gigi anak pertama tumbuh, orang tua perlu membersihkan gusi anaknya dengan menggunakan kain kassa steril yang dicelupkan ke dalam air hangat setiap setelah menyusu. Cara membersihkan gigi dan mulut akan berbeda pada tiap tingkatan usia, bergantung dari kemampuan motorik seseorang.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa masalah terbesar pada rongga mulut masyarakat Indonesia adalah karies gigi. Karies gigi dapat terjadi jika memenuhi empat syarat, yakni waktu, substrat/makanan, host/gigi, dan bakteri penyebab karies gigi.5 Jika salah satunya tidak ada, maka tidak akan terjadi karies atau lubang gigi. Terlihat sangat mudah, namun nyatanya sebagian besar masyarakat masih lalai untuk meniadakan salah satunya.

Beberapa hal dapat dilakukan agar keempat faktor tersebut tidak hadir secara bersamaan, cara yang paling mudah adalah dengan menyikat gigi. Menyikat gigi akan menyingkirkan plak yang menempel pada gigi setelah makan. Plak gigi perlu disingkirkan karena plak dapat berisi bakteri yang menghasilkan asam. Plak terbentuk dari sisa makanan, dan plak tersebut dapat menjadi “makanan” bagi bakteri di dalam mulut. Pada 10 menit pertama setelah makan, bakteri di dalam mulut sudah dapat mengolah sisa makanan yang ada di dalam mulut (terutama makanan manis dan lengket), sehingga menyebabkan derajat keasaman (pH) rongga mulut berada pada titik terendah. Ludah (saliva) akan membantu kita untuk menetralkan kembali derajat keasaman yang disebabkan oleh fermentasi bakteri tersebut. Namun, hal tersebut akan bergantung pada derajat kekentalan ludah dan volume ludah.

Derajat keasaman yang menurun, lama kelamaan akan membuat mineral pada gigi terlepas sedikit demi sedikit sehingga menyebabkan lubang pada gigi. Fluoride akan menggantikan mineral gigi yang terlepas dan melindungi gigi dari serangan asam. Fluoride terbukti mengurangi 20-30% risiko karies gigi pada anak.5 Fluoride dapat diperoleh secara sistemik dan topikal. Penggunaan secara sistemik bisa berupa tablet, obat tetes, dan fluoridasi air minum ataupun melalui makanan dan minuman secara alami. Sedangkan pemberian secara lokal dapat berupa topikal aplikasi, penggunaan pasta gigi yang mengandung fluor, dan obat kumur.

Air merupakan sumber fluoride terbesar, namun di beberapa daerah yang kadar fluoride-nya kurang dari 0.5-0,7 mg/L dibutuhkan sumber tambahan dari makanan untuk mencapai kadar yang optimal. Beberapa jenis minuman soft drink pun dapat mengandung fluoride (0,7-0,9 mg/L). Ikan dan daun teh merupakan sumber fluoride yang baik, segelas teh dapat mengandung 0,5-4 mg/L fluoride.

Supplemen fluoride tidak digunakan untuk anak usia di bawah 6 tahun yang air minumnya telah difluoridasi. Dosis penggunaan tablet fluor dapat dilihat pada tabel berikut, namun penggunaannya perlu diawasi oleh dokter gigi.

Untitled

Hampir semua orang di Indonesia menggunakan pasta gigi berfluoride pada waktu menyikat gigi, namun kebanyakan orang tidak menyadari berapa kadar fluoride yang ada di dalamnya. Kebutuhan fluoride untuk setiap orang akan berbeda berdasarkan usia dan kadar fluor yang sudah terkandung pada air minumnya. Pasta gigi yang disarankan untuk digunakan pada anak usia di bawah lima tahun adalah yang mengandung lebih sedikit fluoride karena pada usia kurang dari lima tahun kebutuhan fluoridenya lebih sedikit.6 Anak yang memakai pasta gigi dewasa yang tentunya mengandung fluoride lebih banyak dengan jumlah yang banyak, malah akan menjadikan giginya mengalami fluorosis (kelebihan fluor) yang terlihat seperti bintik putih kekuningan pada giginya.

Saran pemakaian pasta gigi berfluoride:

  1. Gunakan pasta gigi berfluoride yang disarankan dan menyikat gigi dua kali sehari, sebelum tidur dan setelah sarapan pagi. Berkumur dengan sedikit air setelah menyikat gigi agar fluor tidak terbuang seluruhnya.
  2. Gunakan pasta gigi dengan konsentrasi fluor yang tinggi jika risiko kariesnya tinggi dan tidak mendapatkan fluoride dari sumber lain. Gunakan pasta gigi dengan konsentrasi fluor yang rendah jika risiko karies rendah atau mendapatkan asupan fluor dari sumber yang lain.
  3. Pada anak kecil, penggunaan pasta gigi yang berfluoride harus diawasi oleh orang dewasa agar tidak tertelan dan cukup gunakan pasta gigi sebesar biji kacang hijau.

Cara lainnya untuk mendapatan fluoride adalah dengan menggunakan gel atau varnish fluoride yang dapat diaplikasikan oleh dokter gigi. Penggunaan gel ataupun varnish fluoride dapat dilakukan setiap 3-6 bulan sekali tergantung dari risiko karies seseorang.

Penggunaan fluoride pada anak usia 6-12 tahun sangatlah penting karena (a) sedang terjadi pembentukkan mahkota gigi tetap, (b) gigi permanen belaang sedang tumbuh, dan memiliki risiko karies yang besar hingga proses pematangan berakhir, (c) anak-anak harus mulai bertanggung jawab atas kesehatan giginya.

Beberapa penelitian menyatakan bahwa perawatan pencegahan seperti pengaplikasian fluoride hanya akan memakan sedikit biaya daripada biaya penambalan atau perawatan gigi lainnya.2 Hal tersebut dapat dipertimbangkan bagi seseorang yang ingin menginvestasikan uangnya di kemudian hari.

Penyusun: Grace Monica, drg., MKM

Daftar Pustaka

  • Kemenkes. Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar 2018. Jakarta: Lembaga Penerbit Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2019.
  • AAPD. The Importance of the Age One Dental Visit2019: Available from: https://www.aapd.org/globalassets/media/policy-center/year1visit.pdf.
  • Kemenkes. PEDOMAN PEMELIHARAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT IBU HAMIL DAN ANAK USIA BALITA BAGI TENAGA KESEHATAN DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN. 2012.
  • Kemenkes. BUKU PANDUAN BUKU PANDUAN PELATIHAN KADER PELATIHAN KADER KESEHATAN GIGI DAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT DI MASYARAKATMULUT DI MASYARAKAT. 2012.
  • Felton A, Chapman A, Felton S. Diseases and Conditions of the Oral Cavity. Basic Guide to ORAL HEALTH EDUCATION AND PROMOTION: John Wiley & Sons, Ltd; 2014.
  • Welbury R. Pediatric Dentistry. 3 ed: Oxford University Press; 2005.
  • Mc.Donald, Avery, Dean. Dentistry for the Child and Adolescent. 8 ed. St. Louis: Mosby; 2007.