Masih begitu banyak pertanyaan dan ketidakpastian yang muncul terkait pandemi COVID-19 yang sedang terjadi saat ini. Kapan akan berakhirnya, apakah ada obatnya, apa yang akan terjadi selanjutnya, dan banyak pertanyaan lainnya. Karena virus ini tergolong virus yang baru ditemukan, para ahli terus berusaha menemukan cara untuk mengatasi dan mengendalikan penyebaran virus ini. Namun, hingga satu per satu pertanyaan terjawab, tentu kita harus bisa mengambil sikap dan pemikiran bijak.

Hal ini tentunya terkait dengan begitu banyaknya pula kabar dan berita yang belum pasti sumber dan kebenarannya, yang tersebar di masyarakat luas perihal virus dan penyakit ini. Banyak berita dan kabar menjadi bahan pembicaraan padahal tidak sesuai dengan fakta sebenarnya. Beberapa pihak bahkan sengaja menyebarkan berita bohong terkait COVID-19 ini, demi mencapai tujuan pribadinya. Ada yang mengatakan bahwa ini adalah teori konspirasi, ada juga yang menggunakannya sebagai alat untuk menggiring opini.

Berbagai informasi tentang COVID-19 yang beredar di masyarakat luas dan masih dipertanyakan kebenarannya, selalu bermunculan tak terbendung. Mudahnya arus informasi dan media penyebaran informasi di era digital saat ini turut memberi andil dalam penyebaran berita. Tak jarang kita menerima pesan lewat grup Whatsapp, terkait berita COVID-19 ini. Dan tak sedikit pula orang yang memilih untuk langsung percaya pada pesan tersebut tanpa melakukan kroscek akan kebenarannya.

Mayoritas informasi tentang COVID-19 yang beredar di media sosial itu salah. Dan 82% informasi tentang COVID-19 yang beredar di media sosial dipertanyakan kebenaranannya. Mirisnya, Indonesia adalah salah satu negara yang terbanyak menyumbang stigma, rumor dan pemahanan teori konspirasi tentang COVID-19 (Islam, 2020). Berbagai informasi yang diterima oleh masyarakat luas, turut mempengaruhi bagaimana mereka berperilaku. Secara tidak disadari pemahaman dan perilaku yang salah ini akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sehingga berdampak pada turunnya dukungan terhadap program-program pemerintah dalam penanganan pandemi ini dan menjadikan kepatuhan melakukan protokol kesehatan di masyarakat menurun (Pummerer, 2020).

Salah satu masalah yang nyata disebabkan oleh kesalahan pemberitaan adalah adanya anggapan bahwa rumah sakit dengan sengaja mengcovidkan pasien. Tujuan yang dituduhkan cukup beragam, satu diantaranya adalah untuk meraup keuntungan dari bantuan pemerintah. Kita mungkin pernah melihat atau mendengar berita adanya keluarga pasien dengan suspek COVID-19 mengamuk di rumah sakit. Mereka mempertanyakan status kesehatan keluarganya yang menjadi pasien, karena harus melalui alur penanganan COVID-19 tanpa mendapatkan penjelasan dan informasi mendasar dari keputusan tersebut. Kejadian ini jelas menunjukan adanya kesalahpahaman yang terjadi karena komunikasi yang kurang baik antara pemberi asuhan pasien terhadap keluarga. Di sisi lain, keluarga pasien sudah kurang percaya terhadap eksistensi penyakit ini dan pencegahannya dengan melakukan protokol kesehatan karena termakan oleh berita bohong yang terlanjur dipercaya. Kondisi ini jelas memberikan pengaruh sangat besar terhadap usaha penanggulangan pandemi COVID-19 saat ini.

Permasalahan lain yang juga harus disikapi dengan bijak adalah beredarnya informasi mengenai cara- cara yang bisa dilakukan untuk mencegah seseorang terhindar dari virus ini, namun belum teruji dan terbukti kebenarannya. Informasi yang beredar bisa berupa jenis makanan atau obat tertentu yang perlu dikonsumsi, melakukan kegiatan tertentu atau memakai/ menggunakan sesuatu. Kabar bohong yang sempat beredar diantaranya :

  1. Mengkonsumsi bawang putih, alkohol, air kelapa, larutan jeruk nipis dan garam, minum teh dan air perasan lemon dapat menghilangkan virus corona.
  2. Menggosokan minyak kayu putih di seluruh tubuh mencegah virus masuk ke dalam tubuh.
  3. Rutin mencuci hidung dan berkumur dengan obat kumur dapat mencegah corona.

Selain hal diatas, masih banyak hal lain yang beredar di masyarakat sebagai langkah antisipasi terhadap Covid-19.

Tidak sedikit pula masyarakat yang merasa tidak ada ancaman sehingga tidak melakukan protokol kesehatan. Ada juga yang merasa bahwa pandemi ini tidak, vaksin dianggap tidak aman dan COVID-19 hanya bagian dari konspirasi sehingga mereka tidak mau diberikan vaksin COVID-19 (Romer, 2020).

Hal ini membuat penanggulangan COVID-19 di Indonesia semakin susah dilakukan dan semakin tinggi pula penyebaran virus COVID-19 di Indonesia. Seluruh masyarakat Indonesia harus berperan aktif dalam menurunkan penyebaran virus ini, salah satu langkahnya adalah dari penyebaran informasi yang bertanggungjawab. Oleh karena itu, kita harus selalu menyaring berita sebelum sharing, cek kebenaran beritanya dan pastikan informasi berasal dari sumber yang valid dan ilmiah. Jangan biarkan hoax membodohi kita dan membiarkan COVID-19 terus menguasai kehidupan kita. Berantas COVID-19 bersama, kita BISA.

Sumber:

  1. Islam, Saiful, et a. COVID-19–Related Infodemic and Its Impact on Public Health: A Global Social Media Analysis. The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene. https://www.ajtmh.org/content/journals/10.4269/ajtmh.20-0812. 30 November 2020
  2. Uscinski, Joseph E., et al. 2020. Why do people believe COVID-19 conspiracy theories?Harvard Kenedy School. https://www.researchgate.net/publication/340993241_
    Why_do_people_believe_COVID-19_conspiracy_theories . 30 November 2020.
  3. Pummerer, Lotter, et al. 2020. Conspiracy theories and their societal effects during the COVID-19 pandemic.ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/
    340650399_Conspiracy_theories_and_their_societal_effects_during_the_COVID-19_pandemic. 30 November 2020.