Sebentar lagi seluruh umat Muslim di dunia akan tiba pada saatnya menjalankan ibadah suci yaitu ibadah puasa sebelum merayakan Idul Fitri. Dalam menjalani ibadah puasa, tidak jarang muncul gejala-gejala maupun penyakit yang banyak berhubungan dengan keadaan gigi dan mulut yang dapat mengganggu ibadah dan aktivitas. Penelitian dalam Nutrition Journal di Indonesia mengatakan, ketika seseorang menjalankan ibadah puasa, individu tersebut mengonsumsi lebih banyak jenis makanan dibanding ketika tidak berpuasa. Konsumsi makanan dan minuman tersebut banyak berpola pada makanan yang mengandung rasa manis, namun di satu sisi konsumsi makanan yang kaya akan serat justru menurun. Pola konsumsi tersebut sangat memengaruhi kondisi gigi dan mulut.

Pengaruh Ibadah Puasa Terhadap Keadaan Gigi dan Mulut Kita

Terdapat 2 hal utama yang mengalamin perubahan pada keadaan gigi dan mulut ketika menjalani ibadah puasa:

  1. Mulut Kering
  2. Halitosis (Bau Mulut)

    Halitosis adalah suatu kondisi dimana seseorang memiliki aroma napas tak sedap. Di masyarakat, gangguan ini lebih dikenal dengan istilah bau mulut. Gangguan ini merupakan salah satu masalah ketika berpuasa yang paling sering dialami banyak orang. Saat berpuasa memang wajar sekali jika kita merasakan ada aroma yang kurang sedap dari dalam mulut. Hal ini dikarenakan produksi air ludah di dalam mulut berkurang akibat menurunnya intensitas aktifitas mengunyah. Namun biasanya aroma tidak sedap ini akan hilang saat berkumur ketika wudu, atau berbuka puasa. Pada dasarnya bau mulut dibagi menjadi dua kelompok, yaitu bau mulut karena sebab yang wajar dan bau mulut karena sebab yang tidak wajar. Bau mulut karena sebab yang wajar misalnya aroma napas pagi hari atau saat Anda sedang berpuasa. Sedangkan bau mulut karena sebab yang tidak wajar biasanya berhubungan dengan gangguan kesehatan yang lebih serius.

    Gejala / Tanda-tanda akan timbulnya bau mulut:

    1. Terciumnya aroma napas yang tidak sedap dari dalam mulut
    2. Mulut terasa kering
    3. Adanya lapisan berwarna putih di permukaan lidah yang memungkinkan bakteri untuk berkembang

    Jenis-jenis Bau Mulut:

    1. Halitosis genuine ( Bau Mulut yang asli / sebenarnya): dengan dua sub jenis:
      • Halitosis fisiologis: Bau mulut asli yang bersifat sementara
      • Halitosis patologis: Bau mulut yang timbul karena penyebab-penyebab di dalam maupun di luar mulut manusia
    2. Pseudohalitosis: Sebuah keadaan fisiologis dimana seseorang merasa memiliki bau mulut namun setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, tidak ditemukan halitosis
    3. Halitofobia: Sebuah keadaan dimana apabila seseorang dengan bau mulut sudah mendapatkan perawatan namun masih merasakan bau mulut yang tetap ada / tidak hilang.

Beberapa Penyebab Timbulnya Gangguan Keadaan Gigi dan Mulut Ketika Berpuasa

  1. Penyebab yang timbul dari keadaan di dalam mulut / intra oral:
    • Kebersihan mulut yang buruk. Tanpa pembersihan mulut yang baik, sisa makanan akan tertinggal dalam mulut. Hal ini dapat memicu berkembangnya bakteri dalam mulut dan di permukaan lidah yang menyebabkan bau pada mulut. Selain itu, sisa makanan yang menempel pada gigi, gusi, dan lidah akan menyebabkan gingivitis (radang gusi) dan gigi berlubang. Akibatnya terjadi peningkatan bau mulut dan rasa yang tidak enak di dalam mulut.
    • Pembersihan gigi tiruan yang kurang baik. Gigi tiruan yang tidak dibersihkan dengan baik dapat menyebabkan penumpukan sisa makanan dan bakteri di permukaan gigi tiruan. Hal ini bisa memicu munculnya bau yang tidak sedap.
    • Penyakit pada gusi atau jaringan penyangga gigi (periodontal).
    • Pemakaian beberapa obat-obatan tertentu dapat menyebabkan mulut menjadi kering, terutama obat-obatan untuk mengatasi depresi dan tekanan darah tinggi. Xerostomia juga dapat disebabkan oleh kelainan pada kelenjar ludah sehingga produksi ludah menurun. Selain itu, kebiasaan bernapas lewat mulut juga dapat menyebabkan mulut cenderung menjadi lebih kering.
    • Tidak ada aktifitas makan, selama tidur, saliva berkurang, aktivitas pipi dan lidah berkurang untuk menghilangkan epitel deskuamasi dan sisa makanan selama tidur halitosis bangun tidur pagi hari hilang setelah menyikat gigi, dan makan meningkatkan aliran saliva dan membantu menyingkirkan sisa makanan
    • Kebiasaan bernafas melalui mulut atau mendengkur
    • Bau mulut bertambah tidak sedap yang sejalan dengan usia karena perubahan metabolisme dalam tubuh
    • Akibat makanan dan minuman berbau atau obat-obatan tertentu seperti rokok, kopi, alkohol, bawang merah, bawang putih, petai, jengkol, obat anti histamin
    • Pada kondisi perokok berat, dapat menimbulkan hairy tongue (lidah seperti berbulu, yang padahal merupakan hasil dari penumpukan sisa makanan dan pembakaran tembakau pada rokok)
  2. Penyebab yang timbul dari keadaan di luar mulut / ekstra oral:

    Bau mulut dapat merupakan salah satu gejala dari penyakit tertentu, misalnya infeksi saluran pernapasan, gangguan pencernaan, diabetes, atau kelainan pada hati. Gagal ginjal – Psikogenik atau faktor psikosomatik halitofobia

Bagaimana Cara Mendeteksi Bau Mulut yang Mencurigakan?

Halitosis atau bau mulut dapat dipastikan melalui serangkaian wawancara dan pemeriksaan fisik menyeluruh pada rongga mulut dan gigi oleh seorang dokter gigi. Pemeriksaan juga dilakukan pada area hidung dan tenggorokan –jika terdapat luka. Bila dicurigai adanya kemungkinan penyakit sistemik, maka diperlukan adanya pemeriksaan pendukung lainnya. Pemeriksaan yang bisa dilakukan adalah:

  1. Endoskopi (memasukkan kamera melalui rongga mulut)
  2. Rontgen perut
  3. Rontgen dada

Bau mulut karena sebab yang wajar (seperti aroma napas saat bangun tidur) dapat diatasi dengan menyikat gigi. Namun, halitosis karena sebab yang tidak wajar memerlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut oleh dokter gigi spesialis.

Cara-cara Mengatasi Bau Mulut:

  1. Sikat gigi dua kali sehari. Waktu yang paling tepat untuk melakukannya adalah di pagi hari (setelah sarapan) dan malam hari (sebelum tidur).
  2. Ganti sikat gigi setelah 3 sampai 4 bulan. Jika sebelum waktunya mengganti sikat gigi telah rusak dan tidak nyaman digunakan, segera ganti.
  3. Lakukan pembersihan permukaan lidah secara teratur. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan sikat gigi yang lembut atau tongue cleaner.
  4. Pemakaian mouthwash (obat kumur) antibakteri dapat membantu mengurangi pertumbuhan bakteri dalam mulut. Misalnya obat kumur yang mengandung chlorhexidine. Lakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter gigi Anda dalam penggunaan obat kumur tersebut.
  5. Lakukan scaling (pembersihan karang gigi).
  6. Segera perbaiki dan tambal gigi yang berlubang.
  7. Berhentilah merokok dan penggunaan produk tembakau.
  8. Perbanyak minum air putih untuk menjaga kelembaban rongga mulut.
  9. Konsumsi permen karet bebas gula untuk merangsang air liur agar dapat membantu membersihkan sisa makanan serta bakteri.
  10. Perhatikan pola makan. Hindari atau kurangi makanan yang dapat memicu bau mulut.
  11. Bersihkan gigi palsu dan lepaskan saat tidur di malam hari.

Pencernaan Juga Mempengaruhi Kondisi Rongga Mulut

Ketidakseimbangan dalam rongga mulut membuat bakteri jahat berkembang lebih banyak, sehingga memicu terjadinya gigi berlubang, dan penyakit gusi. Selain itu juga rentan terjadi pelepasan gas VSC yaitu Volatile Sulfuric Compounds, penyebab bau mulut.

Ketidakseimbangan di dalam usus juga dapat merusak sistem pencernaan. Sehingga dapat menimbulkan aroma yang dapat naik dari usus melalui saluran pencernaan ke dalam rongga mulut.
Meski ada beberapa gangguan yang bisa terjadi pada mulut karena berpuasa, Anda perlu tahu bahwa puasa yang dijalankan dengan benar ternyata justru bisa menyembuhkan penyakit gusi dan menghilangkan bau mulut secara alami. Pasalnya, puasa bisa memengaruhi aktifitas mikroorganisme di dalam rongga mulut dan usus. Kondisi ini tentu sangat membantu dalam menyeimbangkan kembali keanekaragaman mikroorganisme yang rusak karena pola makan selama puasa. Dampak jangka panjang puasa bagi kesehatan gigi dan mulut sangat baik karena dapat menjaga keseimbangan mikroorganisme di dalam mulut dan usus. Hasilnya bisa mengurangi terjadinya risiko gusi berdarah serta menyembuhkan bau mulut secara alami.

Diasuh Oleh: drg. Shelly Leliana, Sp. PM, M.K.G.

Daftar Pustaka:

  • Aylıkcı BU, Çolak H. Halitosis: From diagnosis to management J Nat Sci Biol Med. 2013 Jan-Jun; 4(1): 14-23.
  • Madhushankari GS., Yamunadevi A, Selvamani M, Kumar KPM, Basandi PS. Halitosis – An overview: Part-I – Classification, etiology, and pathophysiology of halitosis. J Pharm Bioallied Sci. 2015 Aug; 7(Suppl 2): S339–S343