Gigi merupakan salah satu bagian paling kuat dari tubuh manusia yang terbuat dari protein dan mineral serta kalsium. Secara umum, fungsi gigi berperan penting dalam fungsi pengunyahan dan berbicara. Berdasarkan waktu tumbuhnya gigi terdiri dari gigi susu dan gigi permanen. Gigi terdiri atas mahkota dan akar. Mahkota gigi terdiri dari tiga lapisan antara lain enamel, dentin, dan pulpa. Sementara akar gigi tertanam pada jaringan pendukung gigi berupa tulang alveolar, ligament periodontal, membrane periodontal, sementum dan gingiva. santa1

Karies adalah sebuah infeksi yang mengakibatkan kerusakan pada jaringan keras gigi. Karies diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain bakteri, kondisi dan morfologi (bentuk) permukaan gigi, makanan dan waktu. Karies tidak serta merta langsung terjadi dalam waktu singkat.

Pada awalnya, bakteri Streptococcus mutans akan muncul dan berkumpul pada permukaan gigi untuk kemudian bermetabolisme menghasilkan asam laktat. yang mengakibatkan suasana asam pada permukaan gigi. Ion asam yang bereaksi dengan air liur dan plak gigi atau kalkulus mengakibatkan terjadinya demineralisasi atau larutnya permukaan email gigi yang ditandai dengan munculnya lesi awal berupa white spot pada permukaan gigi. Bila derajat keasaman mulut (Ph) semakin turun, maka akan terjadi karies lanjutan yang membentuk lubang yang semakin besar dan dalam.

Berdasarkan stadium atau kedalamannya, karies / karang gigi dibagi menjadi 3, antara lain:

  • Karies superfisial: baru mengenai lapisan luar / email gigi
  • Karies media: karies sudah mencapai dentin / lapisan dalam dari mahkota gigi
  • Karies profunda: sudah mengenai lebih dari setengah dentin atau bahkan sudah mencapai pulpa / ruang syaraf gigi

Ketiga jenis karies di atas memiliki gejala yang berbeda secara klinis. Hal ini dapat membantu dokter gigi dalam melakukan pemeriksaan, penetapan diagnosa serta dalam menentukan rencana perawatan.

Karies superfisial pada umumnya tidak memiliki gejala atau memiliki gejala yang minimum seperti titik putih atau hitam pada permukaan enamel gigi. Pada kondisi seperti ini biasanya pasien tidak memiliki keluhan. Karies superfisial dapat ditanggulangi dengan melakukan penambalan secara langsung (direct restoration) dengan menggunakan bahan tambal untuk mencegah terjadinya infeksi lebih lanjut. Karies superfisial yang tidak ditangani akan berlanjut menjadi karies media yaitu karies yang sudah mencapai lapisan dentin.

Pada karies media biasanya pasien sudah mulai merasakan rasa tidak nyaman berupa ngilu saat terdapat stimulus. Misalnya saat mengonsumsi makanan atau minuman dingin dan saat terjadi perubahan tekanan udara. Biasanya ngilu yang dirasakan pasien akan menghilang saat stimulus dihilangkan. Jika pun tidak hilang, rasa ngilu tidak akan bertahan dalam waktu lama. Pada kondisi ini sebaiknya pasien segera mengunjungi dokter gigi untuk melakukan pemeriksaan dan perawatan. Perawatan yang bisa dilakukan pada kondisi karies media adalah penambalan langsung (direct restoration) dengan bahan tambal. Tentunya setelah jaringan kariesnya dihilangkan terlebih dahulu. santa2

Karies profunda dapat terjadi jika karies media tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Karies profunda biasanya ditandai dengan nyeri berdenyut dan spontan pada gigi berlubang. Nyeri ini bisa muncul dengan atau tanpa adanya stimulus dan berbeda dengan karies media, pada karies profunda walaupun stimulus dihilangkan rasa nyeri dapat bertahan lama. Karies profunda menimbulkan rasa sakit karena karies yang terbentuk sudah sangat dalam sampai mengenai kamar pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah. Infeksi yang terjadi mengakibatkan peradangan pada pulpa. Pada kondisi ini biasanya pasien akan datang ke dokter gigi dan mengeluhkan rasa sakit pada gigi nya. Perawatan yang bisa dilakukan pada kondisi ini adalah perawatan saluran akar (root canal treatment). Perawatan saluran akar dilakukan dengan cara mematikan saraf gigi dan melakukan sterilisasi sehingga gigi dapat ditambal atau dibuatkan mahkota jaket sehingga gigi dapat berfungsi kembali.

Saat gigi sudah mengalami karies profunda namun tidak juga ditangani, maka akan terjadi infeksi lebih lanjut yaitu matinya gigi secara perlahan (Nekrosis pulpa) dan akan mengakibatkan infeksi ke bagian jaringan pendukung gigi (Periodontitis Apikalis). Pada kondisi ini biasanya pasien tidak merasakan sakit spontan lagi, namun sering berakhir pada munculnya rasa nyeri hebat akibat abses yang ditandai dengan gusi bengkak, gigi goyang, atau gigi menjadi keropos. Pada kondisi ini ada dua rencana perawatan yang bisa dilakukan, antara lain perawatan saluran akar dan pencabutan. Kedua tindakan ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Pencabutan gigi sebaiknya dilakukan jika gigi sudah tidak dapat diselamatkan lagi. Setelah dilakukan pencabutan gigi, sebaiknya pasien segera merencanakan untuk pembuatan gigi tiruan sehingga kondisi keseimbangan dalam rongga mulut tidak terganggu. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa karies diakibatkan oleh beberapa faktor, maka karies juga bisa dicegah dengan beberapa cara seperti mengurangi makanan yang memiliki sifat kariogenik seperti gula, karbohidrat dan memperbanyak makan yang mengandung serat, menjaga kebersihan rongga mulut dengan cara menyikat gigi di waktu yang tepat yaitu setelah sarapan dan sebelum tidur, dengan teknik sikat gigi yang benar dan menggunakan sikat gigi dan pasta gigi yang mengandung fluoride serta penggunaan alat bantu berupa dental floss dan tongue scrapper, serta kontrol rutin ke dokter gigi setiap 6 bulan.

Kesimpulan , pada penanganan gigi berlubang, pencabutan gigi tidak disarankan kecuali gigi sudah tidak memungkinkan untuk dirawat. Jika karies hanya mencapai enamel atau dentin segera lakukan penambalan. Namun jika kerusakan sudah mencapai pulpa, maka lakukan perawatan saluran akar sehingga bisa dilakukan follow up berupa penambalan ataupun mahkota tiruan.

Diasuh Oleh: drg. Santa Silalahi

Sumber :

  1. Sturdevant’s Art and Science of Operative Dentistry 7th ed
  2. Cohen’s Pathways of Pulp 11th ed