Lonjakan kasus virus Corona (Covid-19) belum berhenti. Setiap hari kita bisa melihat sekian banyak kasus baru orang yang terpapar oleh virus ini. Hal ini tentunya berdampak pada tingkat pelayanan dan keterisian ruangan rumah sakit (BOR-Bed Occupancy Rate) yang semakin penuh. Di beberapa daerah, bahkan pasien harus menunggu cukup lama untuk mendapat pelayanan di IGD, atau untuk mendapat ruangan perawatan.

Untuk mengatasi hal tersebut, dalam beberapa waktu terakhir, rumah sakit ‘terpaksa’ harus melakukan screening pasien secara lebih ketat untuk menerima pasien yang akan dirawat. Pasien yang telah terkonfirmasi positif namun tidak bergejala atau dengan gejala ringan, akan disarankan untuk melakukan isolasi mandiri. Hal ini diharapkan dapat mengurangi tingkat keterisian ruang perawatan rumah sakit. Sehingga ruang perawatan bisa digunakan untuk pasien yang benar- benar memerlukan perawatan di rumah sakit karena gejala yang cukup berat, atau pasien yang memilki komorbid.

Lalu jika pasien yang sudah terpapar Covid-19 ini diharuskan melakukan isolasi mandiri, sebenarnya, seperti apa protokol atau pedoman dalam melakukan isolasi mandiri ini dengan tepat? Apakah isolasi mandiri tersebut hanya berarti diam di dalam sebuah ruangan atau di dalam rumah? Atau ada hal lain yang perlu atau bahkan harus dilakukan selama menjalani isolasi mandiri ini? WHO sebagai badan kesehatan dunia, sudah merilis pedoman bagi pasien yang harus melakukan isolasi mandiri. Pedoman ini tentunya dapat menjadi panduan kita agar tujuan yang ingin dicapai dari isolasi mandiri dapat tercapai, dan penyebaran serta penularan virus Covid-19 dapat dicegah.

  1. Apa yang harus dilakukan jika hasil Rapid Test Covid-19 menunjukkan hasil negatif?
    Walaupun hasil Rapid Test menunjukkan hasil negative, kita tetap dianjurkan untuk diam di rumah dan melakukan physical distancing. Pemeriksaan (rapid test) dapat kembali dilakukan pada 7-10 hari kemudian. Jika memerlukan layanan konsultasi dokter, usahakan menggunakan layanan konsultasi online (digital health).
  2. Apa yang harus dilakukan jika hasil Rapid Test Covid-19 menunjukkan hasil positif?
    Bila tidak mengalami gejala seperti batuk, demam, suara serak, sesak, pusing, lemas dan diare, maka dapat segera melakukan isolasi mandiri. Lakukan disinfeksi pada seluruh ruangan, peralatan yang digunakan dan lingkungan sekitar orang yang terpapar. Gunakan layanan online jika memerlukan pelayanan kesehatan.
    Namun bila muncul gejala seperti batuk, demam, suara serak, sesak, pusing, lemas dan diare, maka segeralah datang ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat untuk memperoleh pemeriksaan dan perawatan lebih lanjut.

Protokol Isolasi Mandiri

Proses isolasi atau karantina ini perlu dilakukan dengan tujuan agar orang- orang yang ada di sekitar pasien yang telah terpapar tidak tertular. Tujuan lainnya adalah juga untuk memudahkan petugas kesehatan melakukan pemantauan (monitoring) kondisi kesehatan pasien yang diisolasi atau dikarantina. Dalam melakukan isolasi mandiri tentunya ada hal- hal yang perlu dipersiapkan, antara lain :

  • Perlengkapan pribadi seperti pakaian, alat kebersihan, handuk dll. Hindari kebiasaan bertukar atau memakai secara bersama- sama perlengkapan pribadi ini.
  • Siapkan perlengkapan ibadah yang hanya digunakan sendiri.
  • Obat- obatan pribadi, thermometer dan oximeter.
  • Perlengkapan lain yang dianggap perlu untuk mengisi kegiatan selama menjalani isolasi mandiri, seperti handphone, laptop, buku, makanan ringan, alat olahraga.
  • Pasang tulisan yang memberitahukan bahwa kita sedang menjalani isolasi mandiri pada pintu atau tempat yang mudah terlihat.

Selama menjalani isolasi mandiri, wajib tetap tinggal di rumah. Tetap lakukan protokol 3M yaitu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, memakai masker dan menjaga jarak dengan anggota keluarga lain minimal 1,5-2 meter. Usahakan untuk menggunakan kamar mandi terpisah dengan anggota keluarga lain. Berjemur di bawah matahari pagi antara pukul 7-9 selama 15 menit dan lakukan aktifitas fisik seperti olahraga setiap hari selama kurang lebih 15 menit.

Untuk menjaga agar diri tidak bosan dalam menjalani isolasi mandiri, kita dapat tetap melakukan hobi atau aktifitas yang disenangi. Hal ini juga dapat membantu kita untuk terhindar dari rasa tertekan atau stress selama menjalani masa isolasi mandiri. Kelola stress dengan membatasi diri dari informasi yang dapat memicu rasa cemas atau takut. Sebaliknya kita dapat mengisi waktu dengan kegiatan yang lebih menghibur dan positif, seperti mendengarkan musik, menulis, yoga, bermain dengan hewan peliharaan atau sekedar bersantai. Jangan lupa untuk tetap berdoa dan beribadah.

Selain aktifitas dan kebiasaan sehari- hari, hal lain yang penting untuk diperhatikan selama menjalani isolasi mandiri adalah istirahat dan asupan makanan. Pola tidur harus benar dengan waktu yang cukup, yaitu 7-8 jam sehari. Pastikan makanan yang kita konsumsi adalah makanan yang bersih, sehat dan bergizi. Konsumsi buah dan sayur-sayuran sangat disarankan. Selain itu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, disamping obat yang diresepkan oleh dokter, konsumsi juga vitamin C, B, D, E dan zinc setiap hari. Cukupi kebutuhan harian tubuh akan cairan dengan minum air putih 1,5-2 liter per hari.
Untuk melakukan monitoring akan kondisi kita, cek suhu tubuh dan saturasi oksigen setiap pagi dan sore hari. Bukan itu saja, ada beberapa hal lain yang juga perlu kita perhatikan selama menjalani isolasi mandiri, yaitu :

  • Cuci alat makan dan pakaina yang digunakan secara terpisah.
  • Ganti seprei, sarung bantal dan guling secara berkala, cuci terpisah.
  • Bersihkan kamar dan area yang sering disentuh dengan cairan disinfektan (misal : gagang pintu, jendela dll.)
  • Perhatikan pertukaran udara dan cahaya dalam ruangan. Jangan menutup jendela terus menerus tanpa membuka.
  • Lakukan komunikasi dengan keluarga atau kerabat secara online, atau tetap dengan memakai masker dan menjaga jarak.

Beberapa hal yang tidak boleh dilakukan selama isolasi mandiri :

  • Makan bersama dengan anggota keluarga atau orang lain dalam satu meja.
  • Berkumpul bersama anggota keluarga atau orang lain.
  • Menggunakan peralatan, perangkat/ gadget dengan orang lain secara bergantian.
  • Keluar dari kamar atau rumah, kecuali untuk hal mendesak seperti kontrol ke fasilitas layanan kesehatan.

Disadur oleh : Daniel Tristo, dr. MARS.

Sumber :

Buku Saku Pedisman, Pedoman Isolasi Mandiri, 2021, Tim Penyusun.

Referensi Jurnal WHO, Kemenkes RI dan Satgas Penanganan Covid RI.

CategoryCorona Virus