Sela-sela gigi merupakan sebuah ruang / sela yang muncul pada perbatasan antara gigi yang satu dengan gigi lainnya. Pada dasarnya sesuai dengan genetik seseorang, sela-sela gigi memiliki jarak yang bervariasi. Seiring dengan pertumbuhan fisik, perawatan gigi, dan tindakan tertentu pada gigi, sela-sela gigi memiliki kemungkinan untuk membesar atau tetap rapat. Salah satu penyebab makanan tersangkut di sela-sela gigi adalah adanya bentuk tambalan yang kurang tepat, posisi gigi yang berubah, atau karena adanya lubang gigi sehingga makanan menjadi mudah terselip dan tersangkut pada gigi.

Pada kebiasaan tertentu seperti ketika seseorang sering menggunakan tusuk gigi maka dokter gigi juga akan memeriksa apakah kemungkinan terjadi kerusakan pada gusi. Kebiasaan menggunakan tusuk gigi bertujuan untuk mengangkat dan mengeluarkan sisa-sisa makanan yang terselip pada sela-sela gigi. Namun minimnya pengetahuan tentang penggunaan tusuk gigi dapat menyebabkan dampak-dampak yang akan ditimbulkan dari penggunaan tusuk gigi. Tusuk gigi dapat beresiko merusak jaringan penyangga gigi karena bentuk tusuk gigi yang tidak sesuai dengan struktur anatomis gusi dan gigi, bermaterial keras dan tidak fleksibel sehingga dapat menyebabkan luka infeksi, pendarahan bagi gusi, dan melebarkan celah antara gigi.

Tusuk gigi yang banyak di temukan pada masyarakat umumnya berbahan dasar kayu, bambu, dan plastik. Ditinjau dari kebersihannya, tusuk gigi juga dapat menyebabkan terjadinya penurunan gusi, epulis fibromatosa (gusi bengkak hingga membentuk benjolan besar), dan ngilu pada gigi. Pada saat menusuk makanan di sela gigi, gusi akan tertekan. Hal ini disebabkan gusi tidak dapat menahan tekanan tusuk gigi yang berukuran lebih besar. Kasus seperti ini sering terjadi pada gusi geraham belakang. Posisi gusi yang menurun menimbulkan rasa tidak nyaman. Gigi terasa seperti berlubang karena gusi yang biasa mengisi sela gigi bergeser beberapa milimeter. Kebiasaan menggunakan tusuk gigi dengan cara menusuk dan mengungkit dapat mengganggu jaringan pendukung gigi dan dapat mengakibatkan terjadinya peradangan pada gusi.

Cara terbaik untuk membersihkan sisa makanan dari sela gigi adalah dengan menggunakan benang gigi (dental floss). Terdapat 2 jenis dental floss terdiri dari dental floss berlapis lilin dan tidak dilapisi lilin, namun keduanya memiliki efektivitas yang sama dalam membersihkan permukaan sela gigi. Tipe benang gigi yang tidak berlapis lilin lebih dianjurkan untuk membersihkan daerah kontak yang agak renggang, sementara benang gigi yang berlapis lilin lebih cocok untuk sela-sela gigi yang sangat sempit.

Diasuh oleh: Tirza Jessica, drg. (Dokter gigi IGD RSGM Maranatha)

Sumber:

  1. Haris O, Garcia – Godoy , (2004). Primary Preventive Dentistry. 6 edition. Upper Saddle River, New jersey
  2. Fedi, F. P, Vernino R. A, dan Gray, L. J (2004). Silabus Periodonti. EGC, Jakarta
  3. A., L. J. P., Rudy, R. J., Jeong, Y. N., & Coleman, D. K. (2016). Non-Surgical control of Periodontal diseases a Comprehensive Handbook. Springer.