Rasa ngilu pada gigi merupakan keluhan yang umum ditemukan sehari-hari dan dapat terjadi pada siapa saja, baik perempuan maupun laki-laki, terutama pada kalangan lanjut usia. Rasa ngilu ini dapat timbul dengan atau tanpa gigi berlubang. Dalam bahasa medis rasa ngilu ini disebut hipersensitif dentin, dengan ciri khasnya adalah rasa sakit yang diderita bersifat akut, tajam tapi singkat pada dentin / gusi yang tidak lagi dilindungi lapisan email. Rasa ngilu ini merupakan respons gigi dan penunjangnya terhadap rangsangan eksternal baik suhu panas . dingin, kimia, maupun sumber lainnya tanpa adanya keterlibatan bakteri.

Penyebab Hipersensitif Dentin

Hipersensitif dentin dapat terjadi karena 2 penyebab:

  1. Lesi lokalisata yaitu karena hilangnya lapisan pelindung gusi
    Kehilangan lapisan enamel pada mahkota gigi dapat menyebabkan karena terbukanya permukaan akar gigi. Hipersensitif dentin karena kehilangan lapisan enamel dapat terjadi akibat pengikisan (abrasi, atrisi, abfraksi, resesi gingiva, dan erosi) pada gigi. Penyebab yang paling sering adalah erosi gigi karena penyakit yang berhubungan dengan asam lambung atau penyakit sistemik seperti bulimia, dan diet yang menyebabkan keadaan rongga mulut menjadi lebih asam.

  2. Penyakit gusi yang menyebabkan resesi gusi

Jenis – jenis Pengikisan Gigi

  1. Abrasi
    Abrasi adalah keausan di permukaan gigi, yang umumnya di bagian servikal (leher gigi) yang disebabkan faktor mekanis dan kebiasaan buruk, misalnya teknik menyikat gigi yg kurang tepat dan penggunaan sikat gigi yang kasar, pasta gigi yang abrasif dan lain-lain.

  2. Abfraksi
    Abfraksi secara klinis mirip abrasi, merupakan kerusakan di bagian servikal gigi yang disebabkan oleh kekuatan eksternal yang menyebabkan terjadi cekungan yang tajam, biasanya karena pasien mengalami kebiasaan menggigit terlalu keras (bruxism) atau maloklusi (gigi berjejal).

  3. Atrisi
    Atrisi adalah keausan di permukaan insisal atau oklusal (permukaan mengunyah) gigi karena faktor mekanis sebagai akibat yang terjadi dari rahang bawah.

  4. Erosi
    Erosi adalah hilangnya struktur permukaan gigi karena faktor kimia, misalnya konsumsi makanan / minuman bersifat asam yang mengubah tingkat keasaman dalam rongga mulut. Erosi secara klinis dapat berkombinasi dengan abrasi atau abfraksi. Abrasi, abfraksi, atrisi maupun erosi tidak melibatkan bakteri namun pada kasus yang cukup parah bisa disusupi oleh bakteri.

  5. Resesi Gingiva
    Resesi gingiva adalah terbukanya permukaan akar gigi. Kondisi ini dapat terjadi pada satu maupun sekelompok gigi, baik pada rahang atas maupun rahang bawah. Resesi gingiva dapat terjadi antara lain akibat: kebersihan mulut yang buruk, cara menyikat gigi yang salah, permukaan akar yang menonjol, maupun trauma akibat tindakan tertentu. Resesi gingiva umumnya menyebabkan masalah estetik bila terjadi pada gigi depan atas. Selain itu, resesi gingiva cenderung mengakibatkan peningkatan resiko hipersensitif dentin.

Pencegahan dan Perawatan Hipersensitivitas Dentin

Pencegahan dapat dilakukan dengan hindari faktor penyebab terjadinya hipersensitif dentin, seperti; penggunaan sikat gigi dengan bulu kasar, teknik menyikat gigi yang kurang tepat, langsung menyikat gigi setelah makan, penggunaan pasta gigi yang berlebih, makan dan minum yang asam, adanya kebiasaan parafungsi dan penggunaan tusuk gigi yang kurang tepat.

American Dental Association (ADA) merekomendasikan bentuk sikat gigi yang baik sebagai berikut:

  1. Kepala sikat gigi kecil dengan panjang kepala sikat 1-1,25 inci (2,5-3 cm) dan lebar kepala sikat gigi 5/16-1/8 inci, dengan 2-4 baris bulu sikat, tiap serabut
  2. terdiri dari 5-12 helai bulu.
  3. Permukaan bulu sikat gigi datar/rata.
  4. Bulu sikat gigi halus.

Teknik menyikat gigi yang direkomendasikan mulai dengan meletakkan bulu sikat gigi pada daerah sisi gigi dan sebagian lainnya pada sela gusi. Jangan memberikan tekanan yang besar karena tekanan yang diaplikasikan pada sikat gigi dapat menyebabkan gusi memucat. Kepala sikat gigi kemudian berpindah dalam gerakan pendek maju dan mundur dengan sikat gigi berpindah ke bagian lainnya pada waktu yang bersamaan (gerakan memutar). Sisi pada bulu sikat gigi yang lainnya, bukan ujung dari bulu sikat digunakan untuk memecahkan plak. Menyikat gigi 2 kali sehari , pagi 30 menit setelah sarapan dan malam sebelum tidur, gunakan pasta gigi secukupnya dan kontrol rutin ke dokter gigi 6 bulan sekali.

Pada kasus sensitif ringan sampai sedang, edukasi kesehatan gigi dan mulut mengenai metode penyikatan gigi yang benar dan pemilihan pasta gigi yang sesuai yang dapat dilakukan di rumah (at home therapy) dan menghilangkan faktor penyebab lain dari kebiasaan buruk, bila masih tetap merasa ngilu dapat dilanjutkan dengan perawatan di ruang dokter (in office therapy).

Diasuh oleh: drg. Ita Dwi Lestari

(Dokter gigi RSGM Maranatha)

Daftar pustaka:

  1. Carranza FA, Takei HH, Newman MG. Clinical Periodontology.13th Ed. California:Elsevier Saunders;2006.
  2. Mattulada Indria Kirana. Penanganan dentin hipersensitif (Management of dentin hypersensitive). Makassar Dent J 2015; 4(5): 148-151
  3. Serio FG, Hawley CE. Manual of Clinical Periodontics. 2nd Ed. Lexi-Comp.2006.
  4. Utami Nuryani, Komara Ira. Dentin Hypersensitive: Etiology and Treatment. Bandung: Padjajaran Journal of Dentistry 2015; 27 (3): 149-151
  5. Krismariono Agung. Prinsip Dasar Perawatan Resesi Gingiva. dentika Dental Journal 2014; 18 (1) : 96-100.
Write a comment:

*

Your email address will not be published.